Anak Muda Arab Saudi Ramai-Ramai Beralih ke Ponsel Jadul demi Ketenangan

Ilustrasi ponsel jadul. Anak muda Arab Saudi kembali ke Ponsel Jadul demi Kesehatan Mental. - Pixabay
Lelah dengan notifikasi, anak muda Arab Saudi beralih ke ponsel jadul untuk memulihkan fokus dan mencari ketenangan pikiran.

​Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, anak muda di Arab Saudi justru mengambil langkah berbeda. Mahasiswa, kreator konten, hingga profesional mulai meninggalkan kecanggihan ponsel pintar demi menggunakan ponsel jadul. Keputusan ini berakar dari kelelahan mental akibat notifikasi yang tak pernah berhenti dan kebiasaan menggulir layar tanpa ujung.

​Fenomena ini kita kenal sebagai digital minimalism, sebuah gaya hidup yang bertujuan mengurangi konsumsi digital secara sadar demi merebut kembali kendali atas waktu dan pikiran.

​Lelah Terhubung, Mencari Keheningan

Kreator konten asal Riyadh, Noura Al-Qahtani, menganggap langkah mengganti gawai canggihnya dengan ponsel biasa sebagai titik balik kehidupan. “Aku tidak sadar berapa banyak waktuku hilang hanya untuk menatap layar,” ungkap Noura.

​Saat pertama kali beralih, ia merasa asing dengan kesunyian yang datang. Namun, situasi itu perlahan memberikannya kejernihan. Kini, Noura mampu duduk lebih lama, berpikir lebih mendalam, dan merampungkan pekerjaan tanpa gangguan.

​Mengembalikan Fokus yang Hilang

Data mencatat penetrasi media sosial di Arab Saudi telah melampaui 90 persen, dengan rata-rata waktu penggunaan lebih dari tiga jam setiap hari. Tingginya paparan digital ini sering kali memecah konsentrasi penggunanya.

​Abdulrahman Al-Harbi, seorang mahasiswa, merasakan langsung dampak buruknya saat menghadapi masa ujian. “Saya mencoba belajar, tetapi tangan saya selalu refleks mengecek ponsel setiap beberapa menit,” ceritanya. Setelah beralih ke gawai sederhana, ia menyadari satu hal penting: materi belajarnya tidak sulit, melainkan pikirannya yang terus melompat-lompat menuntut rangsangan visual.

​Bukan Anti-Teknologi, Melainkan Pegang Kendali

Menariknya, tren ini tidak berarti mereka menolak kemajuan zaman. Mereka hanya ingin mengatur ulang batas hubungan dengan teknologi. Menghapus aplikasi, mematikan notifikasi, dan menjauhi algoritma adiktif membantu mereka menciptakan ruang hidup yang lebih damai.

​Sebagian orang bahkan memilih metode hibrida. Sara Al-Zahrani, misalnya, tetap memiliki ponsel pintar namun ia hanya membawa gawai sederhana saat bepergian ke luar rumah. “Pikiran saya terasa lebih rileks karena tidak harus terus-menerus merespons sesuatu,” jelas Sara.

​Berpikir Jernih Tanpa Ketergantungan AI

Kesadaran untuk mengerem teknologi juga mencakup penggunaan kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Omar Al-Salem bercerita bahwa ia sempat sangat bergantung pada kecerdasan buatan untuk menyelesaikan urusan sepele, seperti membalas surel atau menyusun ide.

​”Awalnya memang sangat membantu. Namun, seiring waktu, saya merasa kemampuan berpikir mendalam saya menurun,” tuturnya. Setelah mengurangi pemakaian kecerdasan buatan, Omar merasakan perubahan nyata. Ia berpikir lebih lambat, tetapi hasilnya jauh lebih tajam dan jernih.

​Menjaga Kesehatan Mental dan Kualitas Tidur

Para pakar kesehatan menilai gangguan digital tidak hanya merusak konsentrasi, tetapi juga mengancam kesehatan mental dan waktu istirahat. Menatap layar terang sebelum tidur menghambat produksi melatonin, yakni hormon yang mengatur siklus tidur manusia.

​Akibatnya, banyak orang kesulitan mendapatkan tidur yang nyenyak. Paparan informasi yang konstan juga memaksa otak selalu mencari hal baru secara instan, sehingga menyulitkan seseorang untuk menekuni satu hal secara mendalam.

​Kembali pada Kesederhanaan

Di tengah ambisi besar Arab Saudi menjadi pionir teknologi global, tren digital minimalism memunculkan satu pertanyaan penting: seberapa jauh teknologi boleh memegang kendali atas hidup kita?

​Bagi kelompok muda ini, jawabannya sangat lugas. Hidup tidak selalu membutuhkan inovasi yang paling canggih. Kadang kala, kita hanya perlu kembali pada hal-hal sederhana untuk menemukan fokus, ketenangan, dan otonomi diri. Dalam dunia yang terus bising mencari perhatian, berani memilih hening adalah sebuah langkah yang sangat radikal sekaligus melegakan.***