Jauh sebelum ilmuwan mengenal istilah bioteknologi, dapur Sunda sudah mengubah ampas tahu menjadi protein berkat jamur “ajaib”. Akankah rahasia kuno dari abad ke-16 ini menjadi kunci solusi krisis pangan masa depan?
Bayangkan sebuah laboratorium canggih tanpa jas putih atau mikroskop digital, melainkan kepulan asap dari tungku tanah liat. Itulah gambaran dapur Sunda berabad-abad silam. Jauh sebelum istilah “bioteknologi” populer di kalangan akademisi, masyarakat Priangan telah mempraktikkan konversi limbah menjadi pangan (waste-to-food) dengan presisi yang mengejutkan.
Naskah kuno Sanghyang Siksa Kandang Karesian tahun 1518 menjadi saksi bisu kemajuan ini. Di dalamnya terekam teknik diamis-amis atau fermentasi manis, bukti bahwa nenek moyang kita sudah memiliki sistem keilmuan kuliner yang mapan. Salah satu mahakaryanya adalah oncom merah.
Bahan yang awalnya dianggap limbah—ampas tahu—disulap menjadi sumber nutrisi tinggi menggunakan jamur Neurospora intermedia.
Kejutan besar baru saja datang dari dunia sains modern. Studi terbaru di jurnal Nature Microbiology tahun 2024 mengonfirmasi bahwa jamur dalam oncom tersebut bukan sekadar ragi biasa. Ia adalah organisme yang berevolusi bersama aktivitas manusia untuk memecah limbah menjadi energi yang bisa dikonsumsi.
Tak hanya oncom, peuyeum Bandung pun menjadi bukti nyata bagaimana mikroorganisme bekerja mengubah struktur molekuler singkong menjadi camilan legendaris dengan aroma khas.
Kearifan lokal ini bukan sekadar soal rasa, melainkan sistem ekologi pangan yang sangat relevan dengan isu lingkungan global saat ini. Saat dunia sibuk mencari solusi ekonomi sirkular, jawabannya ternyata sudah tersimpan rapi di balik meja makan nenek kita sejak ratusan tahun lalu.
Namun, sejauh mana kita benar-benar memahami “teknologi” yang selama ini hanya kita anggap sebagai lauk pauk sederhana ini?
Selengkapnya baca di sini.





