Makanan rakyat yang paling sering dianggap remeh itu ternyata menyimpan sejarah 400 tahun — dan kini nasibnya sedang ditentukan di Paris.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan harapannya agar tempe ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO. Biasanya penetapan itu berlangsung pada November atau Desember. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam taklimat media penetapan cagar budaya nasional di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ini bukan pertama kali. Dua kali sebelumnya, Indonesia sudah mengusulkan tempe ke UNESCO — dan dua kali gagal. Forum Tempe Indonesia (FTI) mengakui kegagalan itu karena lemahnya publikasi. Kini giliran pemerintah turun tangan langsung, dengan strategi berbeda.
Apa yang Sedang Diupayakan?
Kementerian Kebudayaan secara resmi mengajukan Budaya Tempe ke UNESCO pada 31 Maret 2025 melalui mekanisme single nomination — satu negara hanya boleh mengajukan satu nominasi mandiri dalam dua tahun. Bersamaan dengan itu, Indonesia juga mengajukan Teater Mak Yong bersama Malaysia, dan Jaranan bersama Suriname.
Pengajuan mencakup praktik budaya, pengetahuan fermentasi tradisional, nilai sosial, hingga peran komunitas dalam menjaga keberlanjutan tempe sebagai warisan hidup.
Dari Mana Tempe Berasal?
Tempe sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Dalam Serat Centhini — naskah sastra Jawa abad ke-16 — tempe disebut sebagai hidangan yang disajikan di Dusun Tembayat, Klaten, Jawa Tengah. Kata “tempe” sendiri berasal dari bahasa Jawa Kuno tumpi, yang berarti makanan berwarna putih.
Dalam 400 tahun perjalanannya, variasi tempe terus berkembang — bukan hanya dari kedelai, tapi juga dari kacang koro, kecipir, lamtoro, hingga ampas kelapa. Di Eropa, tempe mulai dikenal sejak 1946, dibawa oleh diaspora Indonesia di Belanda, sebelum menyebar ke Belgia dan Jerman.
Mengapa Ini Penting?
Ekosistem tempe di Indonesia melibatkan sekitar 170.000 komunitas dengan total 1,5 juta pekerja. Tempe bukan hanya soal kuliner — di baliknya ada pengetahuan tradisional, nilai gotong royong, dan teknologi pangan berkelanjutan yang diwariskan lintas generasi.





