Menggali Ulang Api Kemerdekaan: Kisah Debat Sengit Proklamasi, Kekuatan Fatwa Jihad, dan Bahaya Lupa Sejarah

Prof. Dr. Anhar Gonggong, MA (tengah) menyampaikan paparan didampingi pakar komunikasi Edi Setiawan (kiri), dan pemerhati sejarah Prof. Tries Edy Wahyono. Foto:SS @Udang Indonesia

“Kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, kaburkan sejarahnya, hancurkan sisi-sisi sejarahnya, lalu jauhkan rakyat dari budaya luhur. Kita hari ini sudah mengalami proses itu,” ujarnya prihatin.

Edi, yang juga Ketua Bidang Kajian Kebangsaan DPP PCTA Indonesia, menyoroti lemahnya pengajaran sejarah di sekolah. Ia menyebut keputusan menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran tidak wajib adalah langkah berbahaya bagi kesadaran kebangsaan generasi muda.

“Kita sedang mengalami pelemahan ingatan kolektif bangsa. Ini sangat berbahaya,” jelas Edi.

Bacaan Lainnya

Ia lantas menyambung narasi Anhar mengenai proklamasi. Edi menekankan bahwa tiga momentum penting—Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Hari Pahlawan—adalah pilar kemerdekaan.

Ia juga menyinggung peran guru spiritual Soekarno dan para ulama di balik pemilihan tanggal 17 Agustus. Salah satunya adalah pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Beliau (KH Hasyim Asy’ari) yang menyarankan agar proklamasi dilakukan pada tanggal itu. Jika tidak diproklamasikan pada tanggal itu, mencari momentum serupa akan butuh waktu 300 tahun kemudian,” jelas Edi.

Kekuatan di Balik 10 November

Kekuatan spiritual itu tidak berhenti di meja perumusan proklamasi. Pemerhati sejarah, Prof. Tries Edy Wahyono, menegaskan bahwa fatwa jihad mengobarkan semangat perlawanan rakyat dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Prof. Tries memaparkan, Belanda tidak pernah menerima kemerdekaan Indonesia yang PPKI sahkan pada 18 Agustus 1945. “Belanda tidak terima. Belanda datang, September di Tanjung Priok,” paparnya.

Membaca tanda-tanda zaman itu, KH Hasyim Asy’ari kembali bergerak. Pada Oktober 1945, ia mengumpulkan para ulama dan santri di Surabaya.

“Dari pertemuan itu lahirlah sebuah keputusan penting yang kelak dikenal sebagai fatwa jihad. Ini menjadi pegangan arek-arek Suroboyo dan sekitarnya,” jelas Prof. Tries.

Fatwa tersebut, lanjutnya, menjadi dasar moral dan ideologis. Rakyat dari berbagai daerah lantas mengirimkan logistik, tenaga, bahkan jiwa mereka untuk berjuang. “Bukan hanya mengirim logistik, tapi juga mengirim jasmani dan rohaninya untuk berjuang. Itulah kenapa ada slogan merdeka atau mati,” ujarnya.

Pos terkait