Dari rumah kayu di Padang Panjang, Rahmah menyalakan revolusi pendidikan perempuan Nusantara.
Rahmah El Yunusiyyah, perempuan asal Padang Panjang, Sumatra Barat, lahir pada 26 Oktober 1900 dan kini dikenang sebagai Pahlawan Nasional 2025. Ia tumbuh di keluarga ulama, menyaksikan kontras antara kuatnya posisi sosial perempuan Minang dan terbatasnya akses pendidikan bagi mereka. Dari keresahan itulah Rahmah menyalakan perlawanan lewat ilmu.
Pada 1 November 1923, Rahmah mendirikan Madrasah Diniyyah Putri di rumah kayu sederhana dengan 71 murid. Kurikulumnya revolusioner: memadukan ilmu agama, ilmu umum, dan keterampilan hidup. Tujuannya satu — menjadikan perempuan cerdas, mandiri, dan berani memimpin. “Mendidik perempuan berarti mendidik bangsa,” ujarnya.
Sekolah yang ia bangun mengguncang pandangan adat dan kolonial. Diniyyah Putri tumbuh menjadi pusat pendidikan perempuan Islam modern, menarik murid dari berbagai daerah. Rahmah bahkan menerima gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar, Kairo, pada 1957 — satu-satunya perempuan di dunia yang pernah menerimanya kala itu.
Selain pendidik, Rahmah juga politisi. Ia duduk di parlemen melalui Partai Masyumi pada 1955, memperjuangkan moralitas dalam politik. Bagi Rahmah, pendidikan dan kekuasaan harus sama-sama berakar pada akhlak.
Rahmah wafat pada 26 Februari 1969. Namun semangatnya hidup lewat Diniyyah Putri yang kini berusia seabad, tetap menjadi simbol kemajuan perempuan dan pendidikan Islam modern. “Jangan menunggu zaman berubah; jadilah perempuan yang mengubah zaman,” pesannya — kalimat yang kini bergema lintas generasi.





