Kisah dari Riwu Ga yang menantang maut di Jakarta, hingga jurnalis Rosihan Anwar yang tidur berbantalkan granat di kereta, merekam jejak perjuangan yang tak biasa.
Keponakan pahlawan Riwu Ga, Peter A. Rohi, mengungkap keberanian pamannya menyiarkan proklamasi di tengah blokade tentara Jepang pada 17 Agustus 1945 di Jakarta. Tindakan itu mendobrak kebuntuan informasi karena fasilitas radio dikuasai militer.
Ihwal penugasan tersebut bermula tak lama setelah pembacaan proklamasi pada pukul 08.00 WIB. Sukarno memanggil Riwu Ga untuk menyebarkan kabar penting itu ke penjuru kota. “Angalai (sahabat), sekarang giliran angalai,” kata Sukarno seperti dikutip Anwar Hudijono.
Riwu langsung melaksanakan tugas menantang maut dari sang proklamator bersama Sarwoko, adik Sartono. Mereka menaiki jip terbuka, melintasi jalanan Jakarta sambil berteriak melalui megafon. Tentara Jepang yang berpatroli tak menciutkan nyali mereka.
Semula warga kebingungan, namun Riwu kembali mengulangi teriakannya berulang kali. “Rakyat tumpah ruah ke mulut-mulut gang. Saya berteriak dengan megafon. Saya bilang rakyat Indonesia sudah merdeka,” kata Riwu Ga pada 1995.
Sebelumnya, hubungan Sukarno dan Riwu terjalin sangat erat sejak masa pengasingan di Ende. Riwu yang bertugas melayani makan dan minum Sukarno, terus mendampinginya hingga proklamasi. Riwu wafat pada 17 Agustus 1996 silam.
Saksi Mata dan Perjuangan Mesin Tik
Selain itu, kesederhanaan proklamasi juga terekam dalam ingatan Marsekal (Purnawirawan) Saleh Basrah. Mengutip buku Menguak Misteri Sejarah, pemuda 17 tahun itu melintas tanpa sengaja. Ia sedang mengemudikan mobil menuju kawasan Matraman.
Saleh menghentikan kendaraan karena melihat pengibaran bendera Merah Putih di halaman rumah Sukarno. Ia terheran karena Jepang melarang pengibaran bendera itu tanpa disandingkan dengan bendera Jepang. Ia baru menyadari peristiwa itu belakangan.
Di tempat terpisah, siswa Sekolah Menengah Tinggi Jakarta, Abdul Madjid, menerima salinan ketikan proklamasi. Ia membawa secarik kertas itu pulang ke Bogor. Bersama kawan-kawannya di Jalan Ciliwung 4, mereka berinisiatif menggandakan naskah itu.
Terbatasnya alat pencetak tak menyurutkan semangat pemuda untuk menyebarkan kabar kedaulatan. “Dengan mesin tik yang ada, kami perbanyak sedapat mungkin. Maklum tidak punya mesin stensil, mesin fotokopi belum ada,” kata Abdul dalam bukunya.
Upaya itu bertujuan menembus pembatasan informasi akibat penyegelan siaran radio. Abdul menyebut langkah kecil para remaja itu mewakili jiwa nasionalis yang tumbuh di tengah dominasi militer Jepang yang sangat ketat.
Bantal Granat Laskar Rakyat
Kepingan kisah masa revolusi juga datang dari jurnalis Rosihan Anwar pada Juli 1946. Dalam autobiografi Musim Berganti, ia menceritakan perjalanan kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta. Gerbong yang ia tumpangi dipenuhi prajurit perang.
Kelelahan dan rasa kantuk membuat pria 23 tahun itu naik ke rak barang untuk beristirahat. Ia melihat sebuah besek atau kotak anyaman bambu di dekatnya. Tanpa berpikir panjang, Rosihan menjadikan kotak itu sebagai bantal sandaran kepala.
Keesokan harinya, seorang anggota Laskar Rakyat menanyakan kenyamanan tidur Rosihan. Sang wartawan memuji besek yang ia pinjam sebagai bantal darurat. Saat itulah prajurit tersebut mengungkap bahwa kotak tersebut berisi tumpukan granat.
Wartawan kenamaan itu terbelalak menyadari dirinya tidur di atas amunisi peledak. Anggota laskar tersebut hanya tertawa menanggapi ekspresi Rosihan, menganggap hal itu lumrah. Rosihan pun seketika membayangkan kengerian yang nyaris terjadi.
”Saya hanya terpikir andai kata salah satu granat itu terlepas pinnya, maka pasti benak saya menjadi bubur bertebaran dan saya kembali ke hadirat ilahi,” kata Rosihan.***
Daftar Pustaka:
- Anwar, Rosihan. Musim Berganti (Autobiografi).
- Hudijono, Anwar. Terompet Proklamasi (Artikel sejarah yang mengutip Peter A. Rohi).
- Madjid, Abdul. Jembatan Antar Generasi; Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942-1945.
- Triatmono, Hero (Ed.). Menguak Misteri Sejarah.





