Kisah Tak Terduga di Balik Proklamasi Kemerdekaan

Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia, ribuan masyarakat memadati jalan saat pawai di Jakarta, pada 18 Agustus 1945. - IPPHOS/Rei/Koz/1945

​Terbatasnya alat pencetak tak menyurutkan semangat pemuda untuk menyebarkan kabar kedaulatan. “Dengan mesin tik yang ada, kami perbanyak sedapat mungkin. Maklum tidak punya mesin stensil, mesin fotokopi belum ada,” kata Abdul dalam bukunya.

​Upaya itu bertujuan menembus pembatasan informasi akibat penyegelan siaran radio. Abdul menyebut langkah kecil para remaja itu mewakili jiwa nasionalis yang tumbuh di tengah dominasi militer Jepang yang sangat ketat.

​Bantal Granat Laskar Rakyat

​Kepingan kisah masa revolusi juga datang dari jurnalis Rosihan Anwar pada Juli 1946. Dalam autobiografi Musim Berganti, ia menceritakan perjalanan kereta dari Jakarta menuju Yogyakarta. Gerbong yang ia tumpangi dipenuhi prajurit perang.

Bacaan Lainnya

​Kelelahan dan rasa kantuk membuat pria 23 tahun itu naik ke rak barang untuk beristirahat. Ia melihat sebuah besek atau kotak anyaman bambu di dekatnya. Tanpa berpikir panjang, Rosihan menjadikan kotak itu sebagai bantal sandaran kepala.

​Keesokan harinya, seorang anggota Laskar Rakyat menanyakan kenyamanan tidur Rosihan. Sang wartawan memuji besek yang ia pinjam sebagai bantal darurat. Saat itulah prajurit tersebut mengungkap bahwa kotak tersebut berisi tumpukan granat.

​Wartawan kenamaan itu terbelalak menyadari dirinya tidur di atas amunisi peledak. Anggota laskar tersebut hanya tertawa menanggapi ekspresi Rosihan, menganggap hal itu lumrah. Rosihan pun seketika membayangkan kengerian yang nyaris terjadi.

​”Saya hanya terpikir andai kata salah satu granat itu terlepas pinnya, maka pasti benak saya menjadi bubur bertebaran dan saya kembali ke hadirat ilahi,” kata Rosihan.***

​Daftar Pustaka:

  • ​Anwar, Rosihan. Musim Berganti (Autobiografi).
  • Hudijono, Anwar. Terompet Proklamasi (Artikel sejarah yang mengutip Peter A. Rohi).
  • Madjid, Abdul. Jembatan Antar Generasi; Pengalaman Murid SMT Djakarta 1942-1945.
  • Triatmono, Hero (Ed.). Menguak Misteri Sejarah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan