Khamenei: Serangan AS Tak Menggoyahkan Nuklir Iran, “Mereka Gagal Capai Tujuan”

Ayatollah Ali Khamenei dalam video resminya yang disiarkan pada Kamis (26/6). | Tangkapan Layar BBC News

Khamenei tak hanya menepis klaim AS. Dia juga mengancam akan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS lainnya di kawasan jika Iran kembali diserang. “Insiden di Qatar bisa terulang. Jika serangan terjadi lagi, biayanya bagi musuh akan sangat tinggi,” ujarnya.

Meski tidak ada korban jiwa dalam serangan Iran ke pangkalan udara di Qatar—yang menurut Trump telah diantisipasi sebelumnya—ketegangan antara kedua negara terus meningkat.

Sementara itu, Gedung Putih dikabarkan tengah mencari cara untuk membawa Iran kembali ke meja perundingan. Salah satu opsinya adalah menawarkan dukungan terhadap program nuklir sipil non-pengayaan. Namun, Menteri Luar Negeri Iran, pada Kamis, menegaskan bahwa tidak ada rencana pembicaraan dengan AS saat ini.

Bacaan Lainnya

Ketegangan ini bermula dari pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyebut Iran hanya tinggal selangkah lagi dari kemampuan memproduksi senjata nuklir. Sehari sebelumnya, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan bahwa Iran untuk pertama kalinya dalam 20 tahun melanggar komitmennya dalam perjanjian non-proliferasi nuklir.

Sebagai respons, parlemen Iran pun segera meloloskan undang-undang yang menghentikan kerja sama dengan IAEA. Ini berarti Iran kini tak lagi mengizinkan inspektur internasional mengakses situs-situs nuklirnya.

Dampak konflik ini pun tragis. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 610 orang tewas dalam 12 hari serangan udara, sementara Israel mencatat 28 korban jiwa di pihaknya.

Meskipun AS sempat terlibat langsung dalam serangan militer, Presiden Trump kemudian bergerak cepat memediasi gencatan senjata antara Iran dan Israel. Gencatan senjata ini masih bertahan hingga saat ini—namun rapuh, dengan masing-masing pihak masih saling mengintai langkah selanjutnya.

Di tengah klaim, serangan, dan retorika yang saling bertabrakan, satu hal tampak jelas: krisis nuklir Iran belum selesai, dan dunia masih menahan napas.***

 

Pos terkait