Polri meluncurkan PoliceTube, platform video mirip YouTube untuk menyiarkan kinerja aparat secara langsung. Langkah ini menuai pro-kontra soal transparansi, efektivitas, dan urgensinya.
__________
Polri kini punya kanal video sendiri: PoliceTube. Platform ini digagas oleh Divisi Humas Polri bekerja sama dengan PT Digital Unggul Gemilang, dan disebut-sebut sebagai “YouTube versi kepolisian”.
Tujuannya mulia—menyiarkan langsung berbagai aktivitas polisi, mulai dari patroli, bakti sosial, hingga penegakan hukum, agar publik bisa melihat langsung apa yang dilakukan aparat penegak hukum setiap harinya.
Inisiatif ini disebut sebagai bagian dari langkah besar transformasi digital Polri. “Ini lompatan besar menuju pelayanan publik yang lebih terbuka,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Sandi Nugroho kepada media, beberapa waktu lalu. Ia menyebut PoliceTube sebagai upaya memperbaiki citra polisi dan membangun kembali kepercayaan masyarakat yang sempat goyah.
Namun, peluncuran PoliceTube tak lepas dari sorotan. Sejumlah pihak menyambut baik langkah ini sebagai bentuk transparansi. Namun tak sedikit pula yang mempertanyakan urgensinya. Mengapa harus bikin platform sendiri, kalau sudah ada YouTube? Apakah anggaran negara digunakan dengan bijak untuk membangun situs ini?
Kritik pun bermunculan, terutama karena tampilan situs PoliceTube dinilai belum siap diluncurkan. Halaman “About Us” masih bertuliskan “test page”, dan fitur-fiturnya terlihat seperti versi uji coba. Tak pelak, sebagian publik meragukan keseriusan platform ini, bahkan menyebutnya sekadar “gimmick digital”.
Terlepas dari pro-kontra tersebut, PoliceTube menunjukkan bahwa Polri ingin mengambil peran aktif dalam membentuk narasi publik. Pertanyaannya kini: apakah platform ini akan berkembang menjadi ruang akuntabilitas yang nyata—atau justru berhenti sebagai etalase pencitraan belaka? Waktu dan konsistensi akan menjawabnya.***





