Iran mengancam akan membalas serangan terhadap situs nuklir sipil. Sementara Presiden AS mengecam NATO sebagai “macan kertas” karena dinilai enggan mendukung perang melawan Teheran.
Konflik di Timur Tengah memasuki fase paling berbahaya setelah militer Israel melancarkan serangan udara ke dua situs nuklir sipil dan pabrik baja di wilayah Iran, Jumat (27/3/2026).
Teheran merespons keras tindakan tersebut dengan peringatan akan adanya balasan mematikan bagi negara-negara yang terlibat dalam agresi tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menoleransi serangan yang menyasar infrastruktur strategis dan keamanan nasional mereka. Pernyataan ini muncul setelah laporan kerusakan masif yang menimpa pemukiman penduduk.
“Negara-negara penyerang akan membayar ‘harga yang berat’ atas tindakan ini. Kami tidak akan tinggal diam terhadap agresi yang mengancam keamanan nasional,” ujar Araghchi dalam pernyataan resmi, Sabtu (28/3/2026).
Data dari Bulan Sabit Merah Iran menunjukkan skala kerusakan sipil yang mengkhawatirkan. Sedikitnya 92.600 unit rumah warga dilaporkan rusak di seluruh negeri pasca-serangan gabungan tersebut. Pihak militer Iran secara tegas menyebut Amerika Serikat dan Israel sedang “bermain api”.
Retaknya Aliansi Barat
Di tengah ancaman perang terbuka, keretakan justru terjadi di internal blok Barat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik pedas yang menyasar aliansi NATO karena dinilai pasif dalam mendukung langkah militer AS terhadap Teheran.
Dalam sebuah forum bisnis, Trump secara terbuka meremehkan kekuatan aliansi yang telah berdiri puluhan tahun tersebut. Ia merasa AS telah berkorban banyak untuk NATO, namun tidak mendapatkan dukungan balik yang setimpal dalam konfrontasi melawan Iran.
“Saya selalu mengatakan NATO adalah macan kertas. Kami membantu NATO, tapi mereka tidak akan pernah membantu kami,” cetus Trump dengan nada geram.
Eskalasi Tanpa Gencatan Senjata
Sikap Trump ini memicu spekulasi mengenai keretakan hubungan transatlantik yang makin dalam. Hingga saat ini, markas besar NATO belum memberikan tanggapan resmi atas hinaan “macan kertas” tersebut.
Ketiadaan dukungan penuh dari sekutu Eropa tampaknya tidak menyurutkan ambisi militer Washington di kawasan tersebut, meski risiko perang regional total kini berada di depan mata.
Satu hal yang pasti, dengan kerusakan puluhan ribu rumah warga dan ancaman sabotase nuklir, stabilitas energi dan keamanan global kini berada di titik nadir.***





