Media berbahasa Persia yang menuding Garda Revolusi Iran mengincar Pelabuhan Tanjung Priok ternyata merugi lebih dari £410 juta (sekitar Rp9,7 triliun) dalam lima tahun. Menurut Financial Times, utang induk perusahaannya senilai sekitar USD870 juta (sekitar Rp15,6 triliun) dikonversi menjadi saham, sementara identitas pemodalnya tetap tertutup.
Media itu adalah Iran International, kanal yang bermarkas di London. Pada 31 Agustus 2026, kanal tersebut melaporkan bahwa sayap intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merekrut operator non-Iran untuk menyerang kapal, jalur perairan, dan pelabuhan di Asia Timur.
Tanjung Priok, pelabuhan tersibuk di Indonesia, disebut masuk daftar sasaran bersama Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di China. Iran International juga mengklaim telah mengidentifikasi tiga orang yang, menurut sumbernya, direkrut Unit 4000 untuk operasi maritim rahasia.
Sejumlah media nasional mengutip laporan itu, di antaranya CNBC Indonesia pada 14 September 2026.
Bersandar pada sumber anonim
Seluruh tudingan itu berpijak pada sumber yang identitasnya tidak dibuka. Kedutaan Besar Iran di Jakarta membantahnya. Dalam pernyataan resmi yang dimuat Sindonews pada 25 September 2026, kedutaan menyebut laporan itu tidak berdasar dan mustahil diverifikasi.
Ahlulbait Indonesia (ABI) juga menggunakan hak jawab. Organisasi itu menegaskan Ustaz Zahir Yahya dan Ustaz Abdullah Assegaff tidak memiliki keterlibatan apa pun dengan IRGC, termasuk Unit 4000.
Keraguan juga disuarakan mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit. Dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, ia menilai kekuatan laut Iran hanya menjaga Teluk Persia dan Laut Kaspia.
Dian juga menyebut Iran International sebagai media oposisi yang, menurut dia, dibiayai Amerika Serikat dan Arab Saudi. Klaim soal pendanaan itu bisa ditelusuri lewat dokumen keuangan perusahaan.
Rugi ratusan juta pound
Pada akhir Mei 2026, Financial Times menelaah laporan keuangan Volant Media UK, induk Iran International dan Afghanistan International.
Menurut laporan itu, Volant menerima keringanan utang sekitar £650 juta (sekitar Rp15,4 triliun) lewat skema konversi utang menjadi saham. Perusahaan menerbitkan 648 juta lembar saham senilai sekitar USD870 juta pada 13 Desember 2025, sebelum gelombang protes antipemerintah meletus di Iran.
Konversi itu dilakukan ketika keuangan perusahaan terus tertekan. Financial Times mencatat Volant merugi lebih dari £410 juta dalam lima tahun dan berutang sekitar £482 juta (sekitar Rp11,4 triliun) kepada entitas terafiliasi hingga akhir 2024.
Jejak ke Riyadh dan Kepulauan Cayman
Pada tanggal yang sama, seluruh 50.000 lembar saham awal Volant dialihkan dari eksekutif film Inggris-Saudi, Adel Abdulkarim Alabdulkarim, ke perusahaan lepas pantai Info-Cast Cayman Limited. Dokumen itu tidak menyebut siapa penerima saham baru.
Alabdulkarim tetap tercatat sebagai pihak pengendali signifikan karena berwenang mengangkat dan memberhentikan sebagian besar anggota dewan direksi. Seseorang dengan nama yang sama tercatat sebagai kepala operasional Saudi Research and Media Group, kelompok media terbesar Arab Saudi yang disokong negara.
Jejak Saudi bukan isu baru. Pada 2018, The Guardian melaporkan Iran International didanai perusahaan yang direkturnya dekat dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Ketika itu, juru bicara Volant menyatakan perusahaannya dimiliki seorang warga Saudi-Inggris tanpa dukungan maupun afiliasi negara.
Setelah laporan Financial Times terbit, perusahaan kembali membantah menerima dana dari Arab Saudi, Israel, atau pihak luar lain. Volant menyatakan didukung konsorsium investor swasta, tetapi tidak membuka identitas mereka. Menurut juru bicaranya, konversi utang dilakukan untuk memperkuat neraca dan tidak disertai dana baru.
Bagaimana sikap redaksionalnya?
Iran International kini berstatus layanan program sesuai permintaan (on-demand programme service). Dengan status itu, media tersebut tidak lagi diwajibkan mematuhi aturan imparsialitas Ofcom, regulator media Inggris.
Sebelumnya, Ofcom memutuskan Iran International tidak melanggar aturan setelah menyelidiki aduan Duta Besar Iran untuk Inggris pada 2018.
Arah redaksionalnya terbaca dari liputan yang aktif mempromosikan Reza Pahlavi sebagai calon pemimpin Iran berikutnya. Reza adalah putra Shah Mohammad Reza Pahlavi, raja sekutu Amerika Serikat yang digulingkan Revolusi Islam 1979.
Apa artinya bagi Indonesia?
Data keuangan tersebut tidak membuktikan laporan soal Unit 4000 keliru. Dokumen yang ditelaah Financial Times juga tidak membuktikan Iran International dikendalikan pemerintah tertentu.
Namun, hingga kini media itulah satu-satunya sumber tudingan bahwa warga Indonesia direkrut untuk menyerang pelabuhan negaranya sendiri. Tudingan itu menyangkut nama baik warga, keamanan pelabuhan nasional, dan hubungan diplomatik Jakarta–Teheran.
Hingga pertengahan September 2026, pemerintah Indonesia belum mengonfirmasi bahwa Tanjung Priok benar-benar menjadi sasaran Unit 4000.***





