Pakar politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, meragukan kabar bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengincar Pelabuhan Tanjung Priok. Ia menduga isu itu sengaja diembuskan untuk menjauhkan simpati publik Indonesia dari Iran.
“Indonesia bukan musuh Iran dan termasuk negara sahabat. Sangat sulit dipercaya kalau ada aktivitas dari Iran yang mengancam kedaulatan Indonesia,” kata Yon kepada Samudrafakta, Kamis (08/10).
Yon, yang juga menjabat Ketua Program Studi Doktor Kajian Stratejik dan Global UI, menanggapi laporan tentang aktivitas Unit 4000, divisi operasi khusus Organisasi Intelijen IRGC, di Indonesia.
“Justru Amerika yang ingin menggunakan Selat Malaka”
Laporan yang beredar tak hanya menyebut pelabuhan. Unit 4000 juga diklaim merencanakan operasi di Selat Malaka dan Selat Bangka, dua jalur vital perdagangan dunia.
Yon menilai skenario itu jauh dari strategi Teheran. Menurut dia, Selat Malaka adalah rute internasional yang juga memuat kepentingan Amerika Serikat. Menjadikannya medan tempur alternatif setelah Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb tidak masuk dalam hitungan Iran.
“Justru Amerika yang ingin menggunakan strategi Selat Malaka untuk membatasi lalu lintas navigasi Iran maupun sekutu-sekutunya,” ujar Yon.
Ia menduga rumor ini merupakan bagian dari skenario adu domba. Tujuannya menjauhkan Indonesia dari Iran, sekaligus menarik Jakarta lebih dekat ke Amerika Serikat dan Israel di tengah eskalasi konflik Timur Tengah.
Yon juga menilai narasi ancaman semacam itu berpotensi memecah kohesi publik di dalam negeri. Dukungan masyarakat terhadap Iran dan Palestina pun bisa meredup, situasi yang pada akhirnya menguntungkan Israel.
Laporan bersumber anonim
Kabar ini berawal dari laporan Iran International, kanal berbahasa Persia yang bermarkas di London, pada 31 Agustus 2026. Mengutip sumber-sumber yang identitasnya dirahasiakan, media itu menyebut IRGC merekrut operator non-Iran agar Teheran bisa menyangkal keterlibatan bila operasinya terbongkar.
Selain Tanjung Priok, laporan itu menyebut Pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di China sebagai sasaran. Iran International juga mengklaim telah mengidentifikasi tiga orang yang diduga direkrut untuk operasi maritim rahasia.
Klaim tersebut kemudian dikutip sejumlah media nasional, termasuk CNBC Indonesia pada 14 September 2026.
Latar belakang keuangan Iran International ikut disorot. Menurut laporan Financial Times, induk perusahaan media itu merugi lebih dari 410 juta pound sterling (sekitar Rp9,7 triliun) dalam lima tahun. Utang perusahaan senilai USD870 juta (sekitar Rp15,6 triliun) kemudian dikonversi menjadi saham, sementara identitas pemodalnya tidak dibuka.
Apa kata pihak yang disebut?
Kedutaan Besar Iran di Jakarta membantah laporan tersebut. Dalam pernyataan resmi yang dimuat Sindonews pada 25 September 2026, kedutaan menyebut laporan itu tidak berdasar dan mustahil diverifikasi.
Ahlulbait Indonesia (ABI) juga menggunakan hak jawabnya setelah nama petingginya disebut dalam laporan. ABI menegaskan Ketua Umum Ustaz Zahir Yahya dan anggota Dewan Syura Ustaz Abdullah Assegaff sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan IRGC maupun Unit 4000.
Keraguan serupa datang dari mantan Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit. Dalam siniar Madilog di kanal Forum Keadilan TV, Dian menyebut kekuatan laut Iran selama ini berfokus menjaga kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia.
Dian juga menyebut Iran International sebagai media oposisi yang dibiayai Amerika Serikat dan Arab Saudi.
“Klaim soal pendanaan itu bisa ditelusuri lewat dokumen keuangan perusahaan,” kata Dian.
Iran dan Indonesia menjalin hubungan diplomatik sejak 1950. Dalam beberapa tahun terakhir, kapal perang Iran justru beberapa kali bersandar di Tanjung Priok dalam kunjungan resmi, pelabuhan yang kini disebut-sebut menjadi sasarannya.***





