Isfahan kembali diguncang serangan besar yang menyasar depot amunisi dan area kampus.
Amerika Serikat dan Israel kembali mengguncang Provinsi Isfahan, Iran, dalam gelombang serangan terbaru pada akhir pekan. Salah satu target utama adalah depot amunisi besar di Kota Isfahan.
The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan militer AS menghantam depot itu dengan bom penetrator atau bunker buster seberat 2.000 pon. Seorang pejabat AS menyebut jumlah munisi yang dipakai cukup besar.
Presiden AS Donald Trump juga mengunggah video ledakan besar di Isfahan. Rekaman itu memperlihatkan bola api dan ledakan susulan yang konsisten dengan hantaman ke lokasi penyimpanan amunisi.

Klaim bahwa serangan terbaru itu memakai GBU-57 tidak terlihat dalam laporan WSJ yang tersedia. Yang disebut adalah bom bunker buster 2.000 pon, bukan munisi 30.000 pon seperti GBU-57.
Universitas Teknologi Isfahan kembali jadi sasaran
Di saat yang sama, pejabat Iran menyebut Universitas Teknologi Isfahan kembali menjadi target. Akbar Salehi mengatakan kampus itu diserang lagi dan menjadi sasaran kedua dalam sepekan terakhir.
Menurut laporan Xinhua yang mengutip Salehi, serangan terbaru menghantam salah satu institut riset di dalam kampus. Sejumlah bangunan dilaporkan rusak, sementara empat staf disebut mengalami luka ringan.
Pernyataan dari pihak Israel, seperti dikutip RFE/RL, menyebut gelombang serangan di Isfahan diarahkan ke pusat komando bergerak dan fasilitas produksi senjata. Pihak Israel juga mengisyaratkan adanya laboratorium riset IRGC di sekitar area kampus.
IRGC ancam balasan setelah kampus diserang
Setelah serangan ke kampus itu, Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman balasan. Mereka menyebut universitas-universitas AS dan Israel di Asia Barat dapat dianggap sebagai target sah.
IRGC juga menuntut Washington mengeluarkan kecaman resmi atas serangan terhadap universitas di Iran. Jika tidak, Iran mengancam akan melancarkan serangan balasan ke dua universitas yang dikaitkan dengan AS atau Israel di kawasan.





