Mantan agen kontraintelijen Angkatan Udara AS yang membelot ke Iran sejak 2013 kini diburu FBI dengan hadiah USD200.000.
Biro Investigasi Federal AS (FBI) mengumumkan hadiah USD200.000 — sekitar Rp3,2 miliar — bagi siapa saja yang memberikan informasi yang mengarah pada penangkapan Monica Elfriede Witt, mantan agen kontraintelijen Angkatan Udara AS yang membelot ke Iran pada 2013.
Pengumuman itu dikeluarkan Kantor Lapangan Washington FBI pada Kamis, 15 Mei 2026 — tepat di tengah konflik bersenjata antara AS dan Iran yang meletus sejak 28 Februari 2026.
Witt, kini 47 tahun, adalah mantan sersan teknis sekaligus agen khusus pada Kantor Investigasi Khusus Angkatan Udara AS (AFOSI). Ia bertugas aktif antara 1997 hingga 2008, lalu bekerja sebagai kontraktor pemerintah AS hingga 2010.
Selama masa dinas itu, Witt memiliki akses ke informasi rahasia dan sangat rahasia — termasuk identitas asli personel intelijen AS yang beroperasi secara terselubung.
Membelot Usai Konferensi Anti-Barat
Witt membelot ke Iran pada 2013 setelah menghadiri serangkaian konferensi yang ditanggung penuh oleh pihak Iran. Pertemuan itu, oleh Departemen Kehakiman AS, disebut mempromosikan propaganda anti-Barat.
Setibanya di Iran, ia menyerahkan informasi teknis program intelijen rahasia AS, membantu membuat akun media sosial palsu untuk menjebak perwira Angkatan Udara yang masih aktif, dan turut menyusupkan perangkat lunak berbahaya ke perangkat mantan rekannya.
FBI secara khusus menyatakan kekhawatiran bahwa informasi yang dikuasai Witt memperkuat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) — satuan yang bertanggung jawab atas pengumpulan intelijen, perang non-konvensional, dan dukungan langsung kepada berbagai organisasi teroris yang menarget AS.
Ancaman Lama, Bahaya Baru
Kasus yang bermula 13 tahun silam ini kini mendesak secara operasional. Seorang mantan perwira kontraintelijen yang mengetahui identitas asli agen-agen AS — dan kini bekerja untuk IRGC di tengah perang aktif — bukan sekadar simbol kegagalan masa lalu.





