Ucapan John Brennan, mantan bos CIA itu menguat setelah klaim negosiasi Donald Trump berulang kali dibantah langsung oleh Iran.
Mantan Direktur CIA John Brennan melontarkan kritik keras kepada Donald Trump di tengah perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Ia mengaku lebih percaya pada ucapan Iran daripada Trump.
Pernyataan itu tidak muncul di ruang hampa. Dalam beberapa waktu terakhir, Trump berkali-kali mengklaim ada jalur negosiasi dengan Teheran. Namun, klaim itu justru dibantah terbuka oleh pejabat Iran.
Klaim Negosiasi Trump Berulang Kali Dipatahkan
Pada 24 Maret 2026, Reuters melaporkan, Trump menyebut ada progres pembicaraan untuk mengakhiri perang. Di saat yang sama, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menyebut kabar negosiasi langsung itu sebagai berita palsu.
Kontradiksi itu terulang pada 30 Maret 2026. Associated Press melaporkan Trump kembali mengaku sedang bernegosiasi dengan Qalibaf. Namun, Qalibaf dan Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya pembicaraan formal.
Reuters pada hari yang sama juga menulis Trump kembali mengancam Iran sambil mengaku berbicara dengan rezim yang lebih masuk akal. Tetapi Iran tetap menegaskan tidak ada perundingan langsung dengan Washington.
Brennan Menemukan Momentumnya
Di titik ini, ucapan Brennan menjadi lebih relevan. Kritik itu bukan hanya serangan politik, tetapi muncul di tengah pola pernyataan Trump yang langsung bertabrakan dengan bantahan resmi dari pihak Iran.
Narasi bahwa Trump sulit dipercaya dalam isu Iran kini tidak hanya datang dari media Iran. Ia diperkuat oleh laporan Reuters dan AP yang sama-sama mencatat bantahan terbuka Teheran terhadap klaim Trump.
Rekam Jejak Lama Trump Ikut Disorot
Keraguan terhadap kredibilitas Trump juga punya latar belakang panjang. The Washington Post Fact Checker mencatat total 30.573 klaim palsu atau menyesatkan dibuat Trump selama empat tahun masa kepresidenannya.
Karena itu, setiap klaim baru Trump dalam isu perang dan diplomasi cenderung langsung dipandang dengan skeptisisme tinggi. Dalam kasus Iran, skeptisisme itu kian kuat karena bantahan datang langsung dari pihak yang ia klaim sedang diajak berunding.
Ucapan Brennan kini menemukan pijakannya. Saat Trump berbicara tentang negosiasi, Iran membantah. Saat Trump menyebut jalan damai, ancaman penghancuran infrastruktur Iran justru ikut keluar bersamaan.
Bagi publik, kontradiksi itu menjadi penanda penting. Bukan hanya soal perang Iran, tetapi juga soal seberapa jauh ucapan Trump masih bisa dipercaya dalam krisis internasional.
Ini merupakan inferensi dari rangkaian laporan media yang konsisten mencatat klaim Trump dan bantahan Iran.***





