Ancaman Invasi AS ke Iran Perparah Krisis Energi, Harga Minyak Melonjak ke Atas USD116

Seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair dekat Basra, Irak, pada 28 Maret 2026 — Leo Correa/AP
Pasar mulai menghitung risiko perang darat—bukan lagi sekadar gangguan pelayaran.

Ancaman invasi darat Amerika Serikat ke Iran mulai mengubah arah krisis Timur Tengah menjadi guncangan energi global yang lebih serius.

Mengutip Reuters, pada perdagangan Senin, 30 Maret 2026, harga minyak Brent naik ke kisaran USD115,55 hingga USD116,25 per barel. Sementara minyak mentah AS jenis WTI menembus USD102 per barel.

Kenaikan itu terjadi ketika pasar menilai eskalasi konflik bukan lagi sebatas perang udara, melainkan berpotensi masuk ke fase operasi darat—yang dapat memperpanjang gangguan pasokan energi dunia.

Bacaan Lainnya
Eskalasi Dua Arah

Sinyal eskalasi itu datang dari dua arah. Iran menuduh Washington sedang menyiapkan serangan darat, sementara pernyataan pejabat Iran menegaskan bahwa Teheran siap merespons bila pasukan AS masuk ke wilayahnya.

Di saat yang sama, AP melaporkan Presiden Donald Trump disebut mempertimbangkan langkah militer  yang menyasar wilayah dan fasilitas strategis Iran, termasuk Kharg Island, pusat ekspor minyak utama negara itu.

Bagi pasar, kombinasi ancaman invasi dan sasaran terhadap infrastruktur energi inilah yang mendorong premi risiko minyak naik tajam.

Dampaknya membesar karena titik tekan konflik berada di Selat Hormuz, jalur sempit yang sangat menentukan perdagangan energi dunia.

Badan Energi Internasional (IEA) menyebut rata-rata 20 juta barel minyak dan produk minyak per hari melintasi selat itu pada 2025, setara sekitar seperempat perdagangan minyak laut dunia.

Lonjakan Harga

Arus normal sekitar 19 juta barel per hari kini melambat drastis, sehingga pasar secara efektif kehilangan sekitar 12 juta barel per hari setelah hanya sebagian kecil volume yang bisa dialihkan lewat Laut Merah dan Fujairah.

Karena itu, krisis ini tidak lagi dibaca sebagai gangguan sesaat. Brent sudah melonjak 59 persen sepanjang Maret, bahkan melampaui lonjakan saat Perang Teluk 1990.

JPMorgan memperingatkan, jika Selat Hormuz tetap terganggu sebulan lagi, harga minyak bisa mengarah ke USD150 per barel.

Tekanan itu mulai menjalar ke sektor lain: harga avtur, diesel, gas, pupuk, plastik, hingga ongkos pelayaran ikut naik. Asia menjadi kawasan yang paling cepat terpukul karena sekitar 80 persen minyak dan produk olahan yang melewati Hormuz memang dikirim ke pasar Asia.

Pasar saham pun langsung bereaksi. Pada awal perdagangan Asia, Nikkei Jepang turun 4,7 persen dan pasar Korea Selatan melemah 4,2 persen.

Penurunan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa lonjakan energi akan memicu inflasi baru, menekan manufaktur, dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi global.

Dengan kata lain, ancaman invasi AS ke Iran kini tidak hanya menjadi isu militer, tetapi juga ancaman ekonomi lintas kawasan.

Pos terkait