Eks intel AS membongkar bukti pengeboman sekolah di Minab Iran. Ia mengecam militer AS yang disebutnya sengaja menewaskan ratusan anak perempuan.
Mantan Kapten Intelijen Kontraterorisme Angkatan Darat AS, Josephine Guilbeau, melontarkan kecaman keras terhadap institusi militernya sendiri. Ia secara terbuka membongkar kronologi pengeboman mematikan di sebuah sekolah di Minab, Iran.
Tragedi ini menewaskan lebih dari 168 anak perempuan. Bahkan, Guilbeau tanpa ragu melabeli negaranya sendiri sebagai “teroris” karena sengaja menargetkan fasilitas pendidikan sipil.
Fakta Tak Terbantahkan dari Kamera Rudal
Dalam pernyataannya pada Jumat (27/3/2026), Guilbeau memaparkan berbagai bukti kuat. Perwira dengan rekam jejak 17 tahun di agensi elite seperti DIA, ODNI, NSA, dan DHS ini menepis keras klaim yang menyebut serangan tersebut sebagai sebuah ketidaksengajaan.
Ia menjelaskan bahwa militer AS menggunakan rudal Tomahawk modern yang memiliki kamera penargetan internal. Kamera canggih ini menyiarkan citra visual secara langsung (real-time).
”Seluruh sekolah dikelilingi oleh warna-warni lukisan, bunga, mural berwarna cerah. Tanpa diragukan lagi, itu memang sebuah sekolah, jika Anda melihatnya. Kamera rudal Tomahawk sudah jelas,” ungkap Guilbeau.
Tambahan pula, ia menegaskan bahwa operasi militer standar pasti mengandalkan intelijen dan citra satelit berlapis untuk memastikan target demi meminimalisasi tingkat kesalahan.
Kronologi Mengerikan: Musala Jadi Sasaran
Lebih jauh, pakar senior dari Eisenhower Media Network ini merinci timeline operasi yang mengerikan tersebut. Serangan gabungan AS dan Israel di Iran bermula pada pukul 10.00 pagi waktu setempat.
Memasuki pukul 10.20, staf sekolah Minab bergegas mengevakuasi anak-anak. Namun, rudal pertama langsung menghantam bangunan utama sekolah. Serangan ini memaksa anak-anak yang tersisa untuk berlindung di dalam musala.
Tragisnya, rudal kedua secara presisi menyasar musala tersebut dan merenggut nyawa sekitar 163 hingga 165 anak seketika. Tidak lama berselang, rudal ketiga menyusul dan menghantam area di sekitarnya.
Komando Militer Tutup Mata
Guilbeau juga menunjuk hidung pihak yang bertanggung jawab atas insiden mematikan ini. Ia mengungkap bahwa peluncuran rudal Tomahawk tersebut berasal dari kapal perusak USS Spruance. Kapal ini beroperasi di bawah komando Lay R. Tate dan Perwira Eksekutif Jeffrey E. York.
Sangat ironis, komando militer tidak melakukan peninjauan taktis atau penyelidikan usai merenggut ratusan nyawa anak-anak. Kapal tersebut justru langsung mengisi ulang amunisi dari kapal USNS Henry J. Kaiser.
Mereka bersiap melancarkan pengeboman lanjutan pada tanggal 4, 10, dan 18 Maret. Hingga saat ini, kongres sama sekali tidak memanggil komando militer untuk meminta pertanggungjawaban.
Menghadapi nihilnya akuntabilitas ini, Guilbeau merujuk pada definisi resmi terorisme versi pemerintah AS sendiri: penggunaan kekerasan terencana untuk menimbulkan ketakutan dan mengintimidasi masyarakat sipil demi tujuan politik atau ideologi.
”Kami baru saja mengebom sebuah sekolah, padahal kami tahu itu adalah sebuah sekolah. Siapa terorisnya? Siapakah tokoh jahat dalam cerita ini? Menurut definisi terorisme kita sendiri, dan saya dapat mengatakan ini sebagai mantan perwira kontraterorisme, kamilah terorisnya. Kami adalah orang jahat,” kecam Guilbeau secara blak-blakan.***





