Dua hari sebelum delegasi Iran-AS bertemu di Doha, Fars News yang berafiliasi IRGC menyerukan Iran wajib miliki senjata nuklir — langsung membentur Memorandum Islamabad yang baru ditandatangani.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Minggu (28/6/2026) menegaskan bahwa Amerika Serikat harus “memaksa” Israel menghentikan serangan di Lebanon sebagai syarat bagi tercapainya kesepakatan damai yang menyeluruh. Pernyataan itu muncul di tengah badai yang jauh lebih besar: media afiliasi Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Fars News Agency, pada hari yang sama menerbitkan seruan yang secara langsung membentur jalur diplomasi resmi Teheran.
Artikel tanpa nama penulis berjudul “Tidak Ada Pilihan Selain Membangun Bom Atom” itu berargumen Iran mutlak harus mencapai deterens nuklir agar bisa bernegosiasi dari “posisi yang tepat.” Sebagai pembenaran, Fars menarik analogi historis: Amerika pernah dua kali mengancam China dengan serangan nuklir, sebelum Henry Kissinger datang diam-diam untuk berunding — tepat setelah Beijing berhasil membangun bom atom.
Menabrak Memorandum Islamabad
Seruan itu terbit dalam momen yang paling kritis. Pada 17 Juni 2026, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani Memorandum Islamabad secara jarak jauh — Trump di Istana Versailles seusai KTT G7, Pezeshkian di Teheran. Memorandum 14 poin itu mengatur gencatan senjata permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz, dan menetapkan kerangka 60 hari untuk merundingkan kesepakatan final, termasuk soal program nuklir Iran.
Situasi kemudian memanas kembali. Pada 26 Juni, Trump menuduh Iran melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan pesawat nirawak ke kapal-kapal di Selat Hormuz. CENTCOM membalas dengan menyerang fasilitas penyimpanan rudal dan pesawat nirawak Iran serta stasiun radar pesisir. Iran merespons dengan menyerang fasilitas AS di Bahrain dan Kuwait pada 27 Juni. Setelah Iran sempat membatalkan pertemuan teknis, kedua pihak akhirnya sepakat menghentikan serangan satu sama lain dan bertemu di Doha pada Selasa (30/6/2026).
Artikel Fars hadir tepat di antara semua itu.
Suara Garis Keras
Fars berargumen Iran harus mencapai deterens nuklir untuk memperoleh ketenangan yang dibutuhkan, agar sengketa lain bisa diselesaikan lewat negosiasi. Outlet itu juga menyatakan bahwa deterens nuklir bisa menciptakan keseimbangan kekuatan antara Iran, AS, dan Israel. Meski demikian, artikel itu tidak didukung oleh pernyataan resmi pejabat pemerintah Iran mana pun — dan pada hari yang sama, Fars juga mengklaim Iran tidak pernah membuat komitmen apa pun dalam Memorandum Islamabad soal larangan membangun bom nuklir, klaim yang bertentangan dengan posisi AS.
Hamidreza Azizi, peneliti tamu di German Institute for International and Security Affairs, menggambarkan kelompok ultrakonservatif Iran sebagai kekuatan yang memandang konfrontasi dengan AS dan Israel sebagai pertarungan tanpa akhir. “Mereka percaya pada negara Syiah yang harus terus bertahan hingga akhir zaman dan sangat fanatik dalam ideologi keagamaan itu,” kata Azizi kepada CNN.
Trump sebelumnya menegaskan: “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Dan mereka sudah setuju dengan itu.”
Soal perundingan Doha Selasa mendatang, pertanyaan kini tak terhindarkan: apakah seruan bom atom dari Fars hanya kebisingan internal yang bisa diredam Teheran, atau sinyal perpecahan yang cukup dalam untuk mengguncang meja perundingan. “Sekarang saatnya menguji implementasi kesepakatan,” kata Baghaei seusai Memorandum Islamabad ditandatangani — kalimat yang kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.***





