Artikel Fars hadir tepat di antara semua itu.
Suara Garis Keras
Fars berargumen Iran harus mencapai deterens nuklir untuk memperoleh ketenangan yang dibutuhkan, agar sengketa lain bisa diselesaikan lewat negosiasi. Outlet itu juga menyatakan bahwa deterens nuklir bisa menciptakan keseimbangan kekuatan antara Iran, AS, dan Israel. Meski demikian, artikel itu tidak didukung oleh pernyataan resmi pejabat pemerintah Iran mana pun — dan pada hari yang sama, Fars juga mengklaim Iran tidak pernah membuat komitmen apa pun dalam Memorandum Islamabad soal larangan membangun bom nuklir, klaim yang bertentangan dengan posisi AS.
Hamidreza Azizi, peneliti tamu di German Institute for International and Security Affairs, menggambarkan kelompok ultrakonservatif Iran sebagai kekuatan yang memandang konfrontasi dengan AS dan Israel sebagai pertarungan tanpa akhir. “Mereka percaya pada negara Syiah yang harus terus bertahan hingga akhir zaman dan sangat fanatik dalam ideologi keagamaan itu,” kata Azizi kepada CNN.
Trump sebelumnya menegaskan: “Mereka tidak akan memiliki senjata nuklir. Dan mereka sudah setuju dengan itu.”
Soal perundingan Doha Selasa mendatang, pertanyaan kini tak terhindarkan: apakah seruan bom atom dari Fars hanya kebisingan internal yang bisa diredam Teheran, atau sinyal perpecahan yang cukup dalam untuk mengguncang meja perundingan. “Sekarang saatnya menguji implementasi kesepakatan,” kata Baghaei seusai Memorandum Islamabad ditandatangani — kalimat yang kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.***





