“Tidak semua orang setuju dengan kampanye boikot Israel,” ujar Nailul.
Menurut Nailul, kebanyakan impor Indonesia dari Israel dilakukan oleh pihak swasta yang utamanya untuk membeli perangkat teknologi seperti mesin.
Menurut Nailul, pihak swasta juga saat ini lebih memilih melakukan impor dari Israel secara langsung tanpa melalui perantara seperti Singapura karena pertimbangan biaya.
“Jika melakukan impor langsung dari Israel, biayanya lebih murah. Biasa menghemat biaya karena tanpa harus adanya pihak ketiga.” jelasnya.
Namun demikian, diameminta pihak-pihak yang melakukan bisnis dengan Israel sebaiknya mendahulukan prinsip kemanusiaan di atas perdagangan.
“Kalau ada barang dari negara lain yang sama, itu jauh lebih baik daripada impor dari Israel,” ujar dia.
Hasbi Aswar, pengamat Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia (UII) sekaligus peneliti hubungan Indonesia-Israel, menyebut jika meningkatnya impor Indonesia dari Israel menunjukkan pragmatisme politik luar negeri Indonesia.
“Meskipun kita punya panduan prinsip politik luar negeri, misalkan bebas aktif dan menentang penjajahan, tetapi kepentingan-kepentingan jangka pendek membuat Indonesia sering menyimpang dari prinsip tersebut,” ujar Hasbi kepada media.*





