Ironi Politik Luar Negeri Indonesia: Mendukung Palestina, tetapi Impor dari Israel Melonjak 300 Persen Lebih

Di satu sisi, Indonesia mendukung Palestina merdeka, di sisi lainnya nilai impor dari Israel melonjak tajam. | Foto: Ilustrasi

“(Kenaikan angka impor dari Israel) itu terjadi di tengah boikot masyarakat. Tapi pemerintah sendiri tidak melakukan boikot. Itu tercermin di data ini (kenaikan nilai impor dari Israel). Pemerintah masih belum tegas, meskipun kita punya clear stand dalam forum-forum luar negeri,” ujar Andry, dikutip dari BenarNews, Sabtu (20/7/2024).

Satuan Tugas Barang Impor Kemendag, kata Andy, tidak bisa melakukan embargo kepada produk-produk Israel karena kontrak perdagangan itu. Jika embargo diterapkan, menurut Andy, Israel akan melakukan aksi embargo balasan. Dan dia menilai pihak Indonesia belum siap menerima embargo tersebut.

“Akan ada sejumlah kesulitan untuk mengekspor produk kita ke Israel. Saya rasa tidak masalah (jika ekspor Indonesia ke Israel diembargo), karena nominalnya sangat kecil. Paling nanti dari gugatan WTO (World Trade Organization) terkait dengan perdagangan bebas. Saya rasa kita bisa lah fight. Nikel saja kita bisa, apalagi yang kecil-kecil kayak gini,” ujar dia.

Bacaan Lainnya

Sedangkan pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah menilai, peningkatan tajam impor Israel di Indonesia terjadi karena pesatnya pembangunan di Indonesia dari proyek strategis nasional (PSN), pembangunan infrastuktur di daerah-daerah, termasuk pembangunan Ibu kota Nusantara (IKN).

“Alat-alat pertanian, perkebunan, dan mesin dari Israel kan lebih maju dari Indonesia. Apalagi pembangunan infrastruktur lagi kencang di Indonesia,” ujar Trubus.

Dia juga mengatakan jika besarnya impor Indonesia terhadap Israel terjadi karena pemerintah tetap ingin menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa yang merupakan sekutu Israel.

“Ingat, Indonesia masih mengharapkan investasi dari AS dan Eropa untuk pembangunan IKN dan infrastruktur. Indonesia tidak mau dikucilkan Barat dengan menutup hubungan ekonomi dengan Israel,” ujar Trubus.

Kebanyakan dari Swasta

Pengamat ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menilai, derasnya impor dari Israel menunjukkan jika masih banyak pihak-pihak dari Indonesia yang tak mau memutus rantai bisnis dengan Israel—kendati negara tersebut melakukan serangan brutal terhadap Palestina.

Pos terkait