“Kami menerima informasi mengenai transaksi perdagangan antara Indonesia dengan Israel dalam jumlah yang besar. Dan ini dilakukan di tengah kebrutalan yang dilakukan Israel terhadap Palestina,” ujar Marguerite kepada media.
Menurut dia, masyarakat Indonesia berhak tahu mengenai kebenaran informasi ini dan bagaimana komitmen Indonesia dalam mendukung perjuangan hak asasi rakyat Palestina.
“Karena itu, hari ini kami meminta keterbukaan informasi publik kepada Kementerian Perdagangan mengenai data perdagangan kita dengan Israel. Publik berhak mengetahui secara transparan informasi ini,” tegas Marguerite.
Sebagaimana dikutip dari data Kementerian Perdagangan, barang-barang yang diimpor Indonesia dari Israel sejak awal Januari 2024 paling banyak adalah mesin atau pesawat mekanik, disusul peralatan listrik, perkakas, perangkat potong, perangkat optik, dan plastik.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan tidak banyak berkomentar ketika ditanya persoalan ini oleh wartawan.
“Laporan diterima, nanti dilihat,” ujar dia dalam sebuah konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/7/2024).
Di sisi lain, mengutip Republika, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI, Abdul Kadir Jailani, mengatakan bahwa nilai impor Indonesia dari Israel sangat kecil, yakni hanya 0,003 persen dari total nilai impor dari semua negara yang berbisnis dengan negara ini. Namun demikian, dia tak merinci data angka tersebut mengacu pada kurun waktu yang mana.
Sementara itu, pada bulan Mei lalu, investigasi internasional oleh Amnesty International Security Lab, Haaretz, dan Tempo menemukan fakta bahwa setidaknya empat perusahaan asal Israel, yaitu NSO, Candiru, Wintego, dan Intellexa, telah menjual spyware invasif dan teknologi pengawasan siber ke Indonesia kepada Polri pada tahun 2021—kendati antara kedua negara tidak terjalin hubungan diplomatik resmi.
Nilai impor peralatan teknologi itu disebut mencapai USD10,87 juta. Namun, dalam beberapa kesempatan, Polri berkali-kali membantah telah membeli alat sadap dari Israel.
Kenapa Impor dari Israel Terus Berjalan dan Melonjak?
Andry Satrio Nugroho, pengamat dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), menilai bahwa lonjakan impor dari Israel terjadi di tengah boikot karena ada kontrak-kontrak perdagangan sudah disepakati sejak lama di awal—jauh sebelum marak aksi boikot oleh masyarakat.





