YERUSALEM – Ketika KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya berkunjung ke Yerusalem–wilayah yang diklaim Israel–pada 2018 lalu, dia disambut lantunan One Love, lagu karya musisi regae Bob Marley yang dinyanyikan secara kolosal. Muncul kesan seolah Israel ingin perdamaian dalam satu cinta. Nyatanya?
Sebagaimana diketahui, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, ketika masih menjabat sebagai Katib Aam PBNU, pernah berkunjung ke Yerusalem, Juni 2018 silam. Berdasarkan reportase beberapa media internasional kala itu, kedatangannya disambut “Koolulam”, yaitu aksi menyanyi bersama lagu One Love milik Bob Marley di Menara Daud, Yerusalem.
Koolulam adalah sebuah inisiatif musik sosial yang dipandang revolusioner, dengan maksud mengirimkan pesan perdamaian ke seluruh dunia. Dan malam itu, 14 Juni 2018, ratusan orang dari berbagai latar belakang berkumpul untuk menyanyikan lagu One Love milik Bob Marley dalam tiga bahasa–Inggris, Arab, dan Ibrani–untuk menyambut Yahya.
Kedatangan Yahya ke Yerusalem disambut dengan istimewa karena dia dipandang sebagai tokoh penting dalam dunia Islam yang memiliki peran penting dalam organisasi Muslim independen terbesar di dunia, dengan lebih dari 60 juta anggota: NU.
Asiasociety.org kala itu menggambarkan peserta acara Koolulam pada malam tersebut sangat beragam. Mereka datang dari seluruh penjuru Israel, tua dan muda, sendiri dan bersama keluarga Kristen, Yahudi, dan Muslim.
Para kreator Koolulam kala itu memilih lagu One Love untuk dinyanyikan bersama. Pilihan yang dipandang tepat, mengingat liriknya yang sarat dengan pesan cinta dan persatuan.
Ketika Yahya berdiri di tengah penonton, sebagaimana laporan beberapa media internasional kala itu, harmoni yang tercipta seakan tak hanya terdengar di telinga, tetapi juga meresap ke dalam hati. Suara ratusan orang yang berbeda latar belakang berpadu dalam satu melodi, menciptakan momen magis yang jarang terjadi di dunia yang penuh dengan perpecahan ini–demikian tulis media-media.
Dalam suasana itu, dengan batu-batu kuno Menara Daud sebagai saksi, setiap perbedaan di antara peserta seakan tampak mencair. Bagi Yahya, sebagaimana dinyatakannya kepada media internasional kala itu, momen tersebut merupakan bukti nyata dari kekuatan musik untuk menyatukan umat manusia.
“Melalui musik, kita bisa menjembatani perbedaan dan menciptakan harmoni yang sejati,” kata dia, sebagaimana dikutip Asiasociety.
Koolulam, yang didirikan oleh Ben Yaffet, Michal Shahaf, dan Or Taicher, pernah menjadi fenomena viral di YouTube, dengan video-video mereka ditonton jutaan kali. Mereka menciptakan konser yang tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi seakan-akan juga membawa pesan kuat tentang kesetaraan, empati, dan persahabatan. Setiap pertunjukan mereka–termasuk yang diadakan di rumah sakit, sekolah, dan ruang publik lainnya–selalu berhasil menginspirasi banyak orang. Seakan memperkuat pesan bahwa agama bisa menjadi jembatan untuk cinta dan toleransi.
Saat acara dimulai, setiap orang di antara penonton, dari berbagai latar belakang dan keyakinan, bergabung dalam nyanyian bersama. Harmoni yang tercipta dari ratusan suara itu seakan memberikan lebih dari sekadar hiburan malam. Seolah menjadi bukti bahwa persatuan bisa dicapai di salah satu masyarakat yang paling terpecah-belah di dunia.
The Times of Israel melaporkan bahwa momen ketika umat Yahudi, Muslim, dan Kristen berkumpul bersama menyanyikan lagu Bob Marley di penghujung Ramadhan kala itu menunjukkan bahwa musik bisa menjadi alat yang kuat untuk koeksistensi dan perdamaian.
Tiket pertunjukan ini terjual habis dalam hitungan menit, menunjukkan betapa besar antusiasme masyarakat untuk turut serta dalam momen bersejarah ini. Dengan makin luasnya jangkauan Koolulam, para pendirinya berharap dapat membawa inisiatif ini ke seluruh dunia.
“Mereka melakukan perbuatan baik dengan membantu orang-orang terhubung seperti ini,” kata seorang wanita muda Israel saat pertunjukan One Love, sebagaimana direkam Asiasociety. “Saya sangat berharap kebersamaan ini akan terus berlanjut hingga akhir hayat,” harapnya.
Kunjungan Yahya dan partisipasinya dalam acara ini seakan-akan untuk membuktikan bahwa perdamaian dan persatuan adalah hal yang sangat mungkin, bahkan di tengah perbedaan yang paling ekstrim sekali pun–sebagaimana yang terjadi di Israel dan Palestina. Seakan memberikan harapan bahwa suatu hari nanti dunia bisa bernyanyi dalam harmoni satu cinta yang sama.
Harapan yang kemudian dirusak oleh Israel dengan genosida terhadap warga Palestina di Gaza sejak tahun 2023, yang menimbulkan korban 39.000 orang, kebanyakan warga sipil–terutama perempuan, anak-anak, dan orang tua.
Kebrutalan yang entah kapan bakal berakhir.*






