Mayoritas mutlak masyarakat Indonesia menolak keras agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta menolak pengiriman pasukan ke Gaza.
Masyarakat Indonesia menunjukkan sikap tegas terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Survei terbaru dari Indikator Politik Indonesia mengungkap bahwa tingkat dukungan publik terhadap serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel berada pada titik terendah.
Sebanyak 83 persen responden secara terbuka menolak keras serangan tersebut dengan alasan apa pun.
Peneliti Utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyatakan bahwa kelompok yang mendukung agresi ini hanyalah kelompok super minoritas yang murni berjumlah sekitar 5 persen saja.
Selain itu, kesiapan publik untuk menjadi relawan medis bagi tentara AS dan Israel juga sangat rendah, yakni hanya berkisar antara 12 hingga 15 persen.
Penolakan Terhadap Dewan Perdamaian dan Pengiriman Pasukan
Selain isu Iran, publik merespons dingin rencana bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) gagasan Donald Trump. Sebanyak 50,9 persen responden menolak keterlibatan Indonesia, sementara kelompok yang setuju hanya sebesar 26,1 persen.
Penolakan serupa terjadi pada wacana pengiriman 8.000 tentara Indonesia ke Gaza yang ditentang oleh 44,9 persen masyarakat.
Meskipun publik menolak pengiriman pasukan, posisi diplomasi Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto menuai pujian karena tetap konsisten dengan politik bebas aktif.
Indonesia dinilai memiliki sikap paling tegas dibanding negara-negara berpenduduk Muslim lainnya yang mulai melakukan normalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords.
Survei ini dilakukan pada 12 hingga 31 Maret 2026 dengan melibatkan 1.066 responden. Hasil kolaborasi antara LSI, Indikator Politik, dan SMRC ini menegaskan bahwa kebijakan luar negeri terkait konflik Timur Tengah harus tetap memperhatikan kesolidan dukungan dari dalam negeri.***





