Pidato kemenangan Trump atas Iran justru memicu kepanikan pasar dan lonjakan harga minyak dunia.
Dunia menyoroti pidato nasional Presiden Amerika Serikat Donald Trump dari Gedung Putih pada Rabu malam. Ia mengklaim operasi militer negaranya terhadap Iran hampir selesai. Trump menyebut Amerika meraih kemenangan mutlak di semua lini.
Namun klaim kemenangan itu justru diiringi ancaman baru yang memicu kepanikan. Ia memperingatkan akan melancarkan serangan yang jauh lebih keras. Ancaman ini berlaku selama dua hingga tiga minggu ke depan jika tak ada kesepakatan.
Trump dengan percaya diri menyebut angkatan laut Iran telah hilang dan angkatan udaranya hancur. Ia juga mengklaim sebagian besar pemimpin rezim di Teheran sudah tewas. Keberhasilan militer di Venezuela turut ia pamerkan hari itu.
“Musuh kita kalah. Dan Amerika menang, dan sekarang menang lebih besar dari sebelumnya,” ujar Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pidato resminya pada Rabu (1/4/2026).
Incar Minyak dan Ancam Pembangkit Listrik
Pemerintah Amerika Serikat bersiap memperluas skala perangnya. Trump secara terbuka mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di seluruh penjuru Iran. Militernya terus memantau setiap pergerakan di Teheran melalui satelit.
Sebuah pengakuan mengejutkan juga terlontar terkait motif peperangan. Trump secara terang benderang mengakui bahwa target utamanya adalah menguasai cadangan energi. Pengakuan ini membuka tabir kebijakan luar negeri Amerika sesungguhnya.
“Jujur saja, yang paling ingin saya lakukan adalah merebut minyak Iran,” kata Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sesi wawancaranya pada Minggu (29/3/2026).
Trump juga menyentil negara sekutu yang tidak mendukung operasi militer tersebut. Ia menyuruh negara yang bergantung pada jalur Selat Hormuz untuk merebut sendiri pasokan minyaknya. Amerika mengklaim sudah mandiri energi saat ini.
Pasar Saham Anjlok dan Harga Minyak Melambung
Pernyataan kontroversial Trump langsung memukul stabilitas pasar modal global. Harga minyak mentah melonjak tajam lebih dari empat persen. Angkanya menembus 105,7 dolar Amerika Serikat per barel pada perdagangan hari Kamis (2/4/2026).





