Donald Trump sengaja menghindari istilah “perang” dalam konflik Iran. Tujuannya menghindari kewajiban hukum untuk mendapatkan persetujuan Kongres AS.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengakui secara terbuka bahwa pemilihan diksi “operasi militer” merupakan langkah strategis untuk menghindari hambatan konstitusional.
Dalam acara penggalangan dana Partai Republik pada Rabu (25/3/2026), Trump menyebut bahwa penggunaan kata “perang” hanya akan mendatangkan kerumitan birokrasi dari pihak legislatif yang tidak diinginkan.
“Saya tidak akan menggunakan kata ‘perang’ karena mereka bilang, jika Anda menggunakan kata perang, itu mungkin bukan hal yang baik untuk dilakukan,” ujar Trump, sebagaimana dikutip CBS News.
Ia menambahkan lebih memilih istilah “operasi militer” yang menurutnya lebih sesuai dengan realitas di lapangan saat ini.
Siasat Hukum di Balik Semantik
Pilihan kata ini berkaitan erat dengan War Powers Act, sebuah undang-undang era 1970-an yang membatasi aksi militer tanpa izin Kongres maksimal selama 60 hari. Dengan menyebut agresi terhadap Iran sejak akhir Februari lalu sebagai “misi spesifik”, Trump berupaya mempertahankan kontrol penuh sebagai panglima tertinggi tanpa perlu mengemis restu dari kubu Demokrat.
Namun, inkonsistensi sempat muncul dalam pidato yang sama. Trump sesekali masih terpeleset menggunakan kata tersebut dengan mengklaim bahwa “perang” pada dasarnya sudah berakhir beberapa hari setelah pasukan AS masuk ke medan tempur.
Siasat bahasa ini menjadi tameng hukum agar pemerintah tidak terjerat aturan otorisasi penggunaan kekuatan militer.
Kritik Tajam dari Senat
Langkah semantik ini memicu reaksi keras dari Capitol Hill. Senator Demokrat, Chris Murphy, menilai pemerintah sengaja menyembunyikan realitas pertempuran dari publik.
Ia menyoroti fakta adanya tentara Amerika yang tewas di lapangan, sementara Kongres seolah dibuat buta oleh narasi “operasi militer” yang diklaim pemerintah hanya sebagai misi terbatas.
“Saya rasa kita belum pernah mengalami momen seperti ini, di mana Amerika Serikat secara tidak terbantahkan sedang berperang, dan hal itu secara aktif disembunyikan,” tegas Murphy pada Selasa (24/3/2026).





