Rusia Kecam Serangan AS-Israel di Dekat PLTN Bushehr

PLTN Bushehr
Rusia mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel di dekat PLTN Bushehr. - Anadolu
Rusia mengecam keras serangan yang terjadi di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr, Iran, dan menyebutnya sebagai tindakan berbahaya yang berpotensi memicu bencana nuklir.

Perusahaan nuklir negara Rusia, Rosatom, mengevakuasi 163 stafnya dari pembangkit listrik tenaga nuklir Bushehr di Iran pada hari Rabu, menurut laporan kantor berita RIA yang dikelola negara. RIA mengutip pernyataan kepala Rosatom, Alexei Likhachev, yang mengatakan sekitar 300 staf perusahaan masih berada di Bushehr, tetapi lebih banyak lagi yang akan dievakuasi.

Rusia membangun pembangkit nuklir yang ada di Bushehr dan Rosatom sedang membangun unit tambahan di sana, meskipun telah menangguhkan pekerjaan pembangunan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang dengan Iran bulan lalu.

Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya menyebut serangan pada Selasa, 25 Maret 2026, terjadi semakin dekat dengan unit pembangkit listrik No. 1 yang masih beroperasi. Moskow menilai aksi tersebut sebagai tindakan “destruktif, sembrono, dan tidak bertanggung jawab”.

Bacaan Lainnya

Menurut kantor berita negara Islamic Republic News Agency, mengutip Organisasi Energi Atom Iran, serangan terjadi di sekitar fasilitas di Bushehr pada 24 Maret pukul 21.08 waktu setempat. Disebutkan pula bahwa sebuah benda terbang menghantam area dalam pembangkit, namun laporan awal memastikan tidak ada kerugian finansial, teknis, maupun korban jiwa.

“Seolah-olah para agresor sengaja berupaya memicu bencana nuklir berskala besar untuk menutupi tindakan kriminal mereka,” demikian pernyataan resmi dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 25 Maret 2026.

Rusia juga menuding serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan korban di kalangan warga sipil Iran. Moskow memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir seperti PLTN Bushehr dapat menimbulkan dampak kemanusiaan dan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan. Selain itu, Rusia menyoroti ancaman terhadap keselamatan personel, termasuk spesialis Rusia yang bekerja di fasilitas tersebut.

Desakan ke IAEA dan PBB

Rusia menegaskan bahwa PLTN Bushehr berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional serta termasuk dalam Perjanjian Pengamanan Komprehensif. Moskow mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan IAEA untuk mengambil sikap tegas guna mencegah serangan serupa di masa depan.

“Kami menuntut penghentian agresi tanpa provokasi, termasuk serangan terhadap infrastruktur energi nuklir Iran,” tegas pernyataan itu.

Sementara itu, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyebut Washington belum memberikan jaminan bahwa PLTN Bushehr tidak akan menjadi target serangan. Di sisi lain, Amerika Serikat di bawah Donald Trump meningkatkan tekanan dengan menuntut Iran mengakui kekalahan militer. Washington bahkan memperingatkan akan melancarkan serangan yang “lebih keras” jika Teheran menolak.

Namun Iran menolak proposal damai 15 poin yang diajukan AS, menyebutnya sebagai rencana yang tidak realistis dan menyesatkan.

Di lapangan, ketegangan juga meningkat. Iran dilaporkan memperkuat pertahanan di Pulau Kharg dengan sistem pertahanan udara dan pengerahan pasukan, mengantisipasi kemungkinan serangan darat AS.

Kebuntuan diplomatik ini menandai eskalasi baru dalam konflik, di tengah kekhawatiran global atas potensi meluasnya perang dan ancaman terhadap fasilitas nuklir di kawasan.

Pos terkait