Trump melempar sinyal mengaakhiri operasi, sementara Iran sebut musuh mulai retak di tengah eskalasi konflik.
Memasuki pekan keempat perang Iran–Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mulai memberi sinyal penarikan pasukan. Pernyataan itu muncul saat operasi militer masih berlangsung intens.
Dalam unggahan di Truth Social, Jumat (20/3/2026), Trump menyebut target operasi hampir tercapai. Ia juga membuka kemungkinan mengakhiri keterlibatan militer besar di Timur Tengah.
“Kita sangat dekat dengan pencapaian target-target kita,” tulis Trump.
Ia merinci lima sasaran utamanya, mulai dari melumpuhkan kemampuan rudal Iran hingga melindungi sekutu AS di kawasan. Trump juga menilai pengamanan Selat Hormuz seharusnya dilakukan negara pengguna jalur tersebut.
Pentagon Tambah Pasukan, Pernyataan Trump Dipertanyakan
Di tengah sinyal penarikan itu, Pentagon justru meningkatkan kehadiran militer. Sebanyak 2.500 marinir tambahan dikirim ke kawasan, menambah total lebih dari 50.000 personel.
Tiga kapal perang amfibi yang membawa jet tempur F-35 juga diberangkatkan dari California. Langkah ini menunjukkan eskalasi belum mereda.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan perang belum akan berakhir dalam waktu dekat. “Presiden dan Pentagon memperkirakan misi ini butuh 4–6 pekan,” ujarnya di X, Jumat (20/3/2026).
Trump sendiri menolak opsi gencatan senjata. “Anda tidak melakukan gencatan senjata ketika Anda meluluhlantakkan lawan,” katanya di Gedung Putih.
Iran Klaim Beri Pukulan Telak
Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyatakan negaranya telah memukul balik musuh secara signifikan.
Dalam pesan Nowruz, Jumat (20/3/2026), ia menyebut lawan mulai menunjukkan kontradiksi.
“Iran telah memberikan pukulan yang menghancurkan kepada musuh,” tulis Khamenei.
Ia menilai persatuan rakyat Iran menjadi faktor utama melemahnya lawan. Menurutnya, perbedaan internal tidak menghalangi solidaritas nasional.
Pernyataan ini menjadi salah satu komunikasi awal Khamenei sejak menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang tewas pada 28 Februari 2026.
Serangan Terus Berlanjut
Eskalasi konflik tetap berlangsung. Pada Sabtu (21/3/2026), Iran meluncurkan dua rudal balistik ke pangkalan Diego Garcia di Samudra Hindia.
Satu rudal gagal mencapai target, sementara lainnya berhasil dicegat kapal perang AS.
Di kawasan Teluk, serangan drone Iran juga dilaporkan mengenai fasilitas minyak di Kuwait. Arab Saudi mengklaim berhasil menjatuhkan 20 drone di wilayah timurnya.
Serangan ini memperluas medan konflik. Tekanan terus meningkat.
Tekanan Ekonomi Mulai Terasa
Lonjakan harga energi global menjadi salah satu dampak utama perang. Serangan terhadap fasilitas energi Teluk memicu gangguan pasokan minyak dan gas.
Fasilitas LNG Ras Laffan di Qatar dilaporkan mengalami kerusakan besar, dengan potensi kerugian hingga USD20 miliar per tahun.
Pemerintah AS merespons dengan mencabut sementara sanksi terhadap minyak Iran yang sudah berada di kapal. Menteri Keuangan Scott Bessent menyebut langkah ini bisa melepas sekitar 140 juta barel ke pasar.
Langkah ini bertujuan menekan harga energi global yang melonjak tajam.
Korban Terus Bertambah
Sejak perang dimulai pada 28 Februari 2026, korban jiwa terus meningkat. Lebih dari 1.400 orang tewas di Iran. Di Lebanon, korban mencapai lebih dari 1.000 jiwa akibat serangan Israel.
Sebanyak 18 warga Israel dilaporkan tewas akibat serangan rudal Iran. Sementara itu, 13 personel militer AS tewas dan 200 lainnya terluka.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan Iran “sedang dalam proses dikalahkan”. Ia juga membuka kemungkinan operasi darat.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menilai solusi politik hanya bisa dicapai melalui perubahan sikap signifikan dari Iran.
Perang belum usai. Ketegangan masih tinggi. ***





