Perang AS-Israel terhadap Iran mengancam ekonomi Amerika. Warga AS bersiap menanggung “pajak Israel First” triliunan dolar.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melontarkan peringatan keras terkait dampak ekonomi akibat agresi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa rakyat biasa Amerika akan memikul beban terberat melalui apa yang ia sebut sebagai “pajak Israel First”.
Beban ini diperkirakan mencapai triliunan dolar dan berpotensi menghantam telak ekonomi Amerika Serikat.
We’re only three weeks into this war of choice, imposed on both Iranians and Americans.
This $200b is the tip of the iceberg. Ordinary Americans can thank Benjamin Netanyahu and his lackeys in Congress for the trillion-dollar “Israel First tax” that’s about to hit U.S. economy. pic.twitter.com/a2dsMQh3fK
— Seyed Abbas Araghchi (@araghchi) March 19, 2026
Araghchi menyampaikan pandangannya melalui platform X pada Kamis (19/3/2026). Pernyataan ini muncul tepat setelah The Washington Post melaporkan rencana Departemen Pertahanan AS (Pentagon) yang meminta tambahan anggaran fantastis.
Permintaan Anggaran Raksasa Pentagon
Laporan The Washington Post mengungkap bahwa Pentagon mengajukan anggaran lebih dari USD200 miliar dolar khusus untuk mendanai operasi militer melawan Iran.
Sumber terkait menyebutkan, dana tambahan ini bertujuan mempercepat produksi senjata yang menipis atau hancur selama peperangan.
Dana tersebut juga akan mengalir untuk mengganti stok persenjataan canggih. Beberapa di antaranya meliputi rudal jelajah Tomahawk, sistem pertahanan udara Patriot, dan pencegat THAAD yang terus militer AS gunakan selama beberapa minggu terakhir.
Biaya perang ini memang melonjak sangat cepat. Data perkiraan awal menunjukkan bahwa selama enam hari pertama saja, perang telah menyedot anggaran sekitar USD11,3 miliar.
Bahkan, militer menghabiskan amunisi senilai lebih dari 5,6 miliar dolar hanya dalam 48 jam pertama konflik meletus.
Puncak Gunung Es
Menanggapi besarnya angka tersebut, diplomat tertinggi Iran itu menilainya belum seberapa. Araghchi menyebut anggaran 200 miliar dolar itu hanyalah “puncak gunung es”.





