Terlebih lagi, konflik bersenjata ini kini memasuki minggu keempat. Fakta ini sekaligus mematahkan prediksi awal musuh yang mengira perang akan berlangsung singkat.
“Kami baru memasuki minggu ketiga dari perang pilihan ini, yang musuh paksakan baik kepada rakyat Iran maupun Amerika,” tulis Araghchi.
Ia lebih lanjut menyoroti siapa yang harus bertanggung jawab atas krisis ekonomi ini. “Rakyat Amerika dapat berterima kasih kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan para sekutunya di Kongres atas ‘pajak Israel First’ senilai triliunan dolar yang akan menghantam ekonomi AS,” tegasnya.
Balasan Sengit dari Teheran
Sebagai informasi, agresi militer AS-Israel terhadap Iran bermula pada 28 Februari lalu. Saat itu, mereka melancarkan serangan udara yang menewaskan sejumlah pejabat tinggi dan komandan militer Iran.
Tindakan tersebut tidak dibiarkan begitu saja oleh Teheran. Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran meluncurkan operasi balasan yang melibatkan rudal dan drone tempur hampir setiap hari. Mereka menargetkan berbagai lokasi strategis di wilayah pendudukan Israel, serta pangkalan dan aset militer Amerika Serikat yang berada di kawasan tersebut.
Melalui prinsip “mata ganti mata”, serangan balasan Iran terus menimbulkan kerugian besar bagi pihak AS dan Israel. Jika konflik ini terus berlarut tanpa resolusi, prediksi Araghchi tentang runtuhnya triliunan dolar uang pajak rakyat Amerika untuk mendanai perang sangat mungkin menjadi kenyataan pahit bagi ekonomi Paman Sam.***





