Beda dengan Lima Aktivis NU, Gus Dur ke Israel Bukan karena Pesanan Sponsor

KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. | Foto: Istimewa
YOGYAKARTA—Lima aktivis Nahdlatul Ulama (NU) yang bertemu Presiden Israel Isaac Herzog 3 Juli lalu mengklaim bahwa mereka mengikuti langkah KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang juga pernah ke Israel. Klaim yang sepertinya kurang pas. Pasalnya, Gus Dur ke Israel bukan karena pesanan sponsor.

Pada tahun 1994, Gus Dur—ketika itu Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU)— berkunjung ke Israel. Dia datang setelah Perdana Menteri (PM) Israel Yitzhak Rabin dan Pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat menandatangani perjanjian damai di Oslo, Swedia, dan diratifikasi di Washington, Amerika Serikat (AS) pada 13 Desember 1993. Israel mengundang Gus Dur dan PBNU sebagai saksi jika negara tersebut sudah akur dengan Palestina.

Perjanjian Oslo adalah dua kesepakatan yang ditandatangani oleh pemerintah Israel dan pimpinan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Perjanjian Oslo I diratifikasi pada 13 September 1993 di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, sedangkan Perjanjian Oslo II ditandatangani di Taba, Mesir, pada September 1995. | Foto: Wikipedia Common

Gus Dur waktu itu hadir atas nama PBNU, diketahui organisasi, untuk kepentingan diplomasi. Bukan ‘nyelonong’ karena ‘pesanan’ lembaga Israel.

Motivasi dan cara kedatangan Gus Dur itu beda dengan lima aktivis NU yang bertemu Presiden Isaac Herzog pada 3 Juli 2024. Kelima aktivis, sebagaimana pengakuan mereka sendiri, disponsori iTrek atau Israel Trek, lembaga milik Israel. Pesanan sponsor. Kepergian mereka juga di luar sepengetahuan PBNU, kendati mereka bawa-bawa nama NU.

Bacaan Lainnya

Konstelasi politik Timur Tengah ketika Gus Dur berkunjung pada tahun 1994, khususnya terkait hubungan Palestina dan Israel, juga jauh berbeda dengan situasi sekarang. Gus Dur datang ketika Israel dan Palestina sepakat damai. Sedangkan saat ini, ketika lima aktivis NU berkunjung, Israel jelas-jelas sedang galak-galaknya membombardir rakyat Palestina, khususnya di Jalur Gaza, dan menuai kecaman dunia, termasuk Indonesia.

Proses Panjang

Jauh sebelum kedatangannya pada 1994, Gus Dur mengaku sudah pernah ke Israel pada tahun 1980. Kedatangannya kala itu juga bukan karena pesanan sponsor. Dia datang untuk kepentingan kerja-kerja akademik-ilmiah dengan ongkos sendiri.

Gus Dur ke Israel di tahun 1980 setelah sebelumnya dia mempelajari situasi dan kondisi negara tersebut dan konstelasi politik dunia pada masa itu. Dia tidak datang mendadak. Bukan berdasarkan keputusan yang sembrono.

Sebelum kunjungan tersebut, Gus Dur telah menjalin pertemanan dengan seorang Yahudi Irak bernama Ramim. Pertemanan terjalin ketika Gus Dur menempuh studi di Irak antara tahun 1966-1970. Di tengah periode itulah Gus Dur berkenalan dan berteman dengan Ramim.

Gus Dur memanfaatkan pertemanan tersebut untuk belajar Yudaisme dari Ramim. Sekaligus mempelajari politik, ekonomi, dan kebudayaan Yahudi. Kunjungannya ke Israel pada tahun 1980 merupakan proses pembelajaran selanjutnya dan—sekali lagi—itu tidak disponsori oleh Israel. Gus Dur kala itu juga tidak bawa-bawa nama NU.

Lebih dari satu dasawarsa setelah kedatangan Gus Dur ke Israel di tahun 1980, pada bulan Juni tahun 1993, Shimon Peres—kala itu Menteri Luar Negeri Israel—bertemu secara politis untuk pertama kalinya dengan Menteri Luar Negeri RI waktu itu, Ali Alatas. Keduanya bertemu di Wina, Austria.

Setahun setelah pertemuan Shimon Peres dan Ali Alatas, pada bulan Oktober tahun 1994, Gus Dur, Habib Chirzin, dan Djohan Efendi berkunjung ke Israel atas undangan PM Yitzhak Rabin.

Rombongan Gus Dur datang untuk menjadi saksi perjanjian damai yang telah terjalin antara Israel dan Palestina. Tokoh-tokoh NU, khususnya Gus Dur, sengaja diundang karena dipandang memiliki peran strategis untuk menjelaskan komitmen Israel terkait perdamaian kepada dunia Muslim, khususnya Indonesia.

Kurang lebih setahun setelahnya, pada 5 November 1995, Gus Dur melontarkan pernyataan bahwa manusia secara umum ada yang baik dan ada pula yang buruk. Dia menyebut Shimon Peres sebagai contoh teman yang baik. Ungkapan ini berdasarkan pengamatan Gus Dur pada perkembangan situasi politik Timur Tengah pada zaman tersebut.

Dua tahun kemudian, 1997, Gus Dur diangkat menjadi salah satu anggota eksekutif Shimon Peres Center di Tel Aviv, Israel. Sejak kala itu kedekatan Gus Dur dan Shimon Peres—yang ketika itu merupakan tokoh sentral Israel—makin erat. Mereka merasa memiliki satu visi bersama, yaitu menyebarkan perdamaian dunia.

Pada tahun 1998, Indonesia dihantam krisis moneter. Di tengah situasi tersebut, Gus Dur dan Alwi Shihab–sahabat Gus Dur yang kemudian didapuk sebagai Menteri Luar Negeri–sempat mewacanakan agar pemerintah Indonesia mempererat hubungan dengan Israel. Tujuannya untuk menarik investasi konglomerat Yahudi Amerika, yang diharapkan bisa membantu mengatasi krisis moneter di Indonesia.

Motivasi Gus Dur kali itu masih untuk kepentingan negara, bukan urusan personal.

Setahun kemudian, 1999, Gus Dur terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia. Kekuatan politik di tangannya makin besar. Kendati demikian, terkait hubungan Indonesia dengan Israel, Gus Dur tidak mengambil langkah sembrono. Dia hanya sebatas melontarkan wacana untuk membuka hubungan diplomatik Indonesia-Israel. Wacana yang tak pernah terealisasikan.

Pada bulan Agustus tahun 2000, atas prakarsa Mossad, Gus Dur bertemu Shimon Peres di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Dia juga diketahui melakukan perjalanan ke Praha untuk bertemu Shimon Peres, di tahun itu juga.

Kedekatan Gus Dur dan elite Israel kala itu mendapat pujian dari Koran Haaretz, Israel, pada tahun 2004. Haaretz menyebut Gus Dur sebagai “Sahabat Israel di Dunia Islam.”

Tiga tahun kemudian, pada 2007, Gus Dur mendapat Medal of Valor atau Medali Keberanian dari Shimon Wiesenthal Center, di Los Angeles, Amerika Serikat (AS). Medali diberikan karena Israel waktu itu menghargai gagasan Gus Dur untuk membangun kehidupan harmonis antar-umat beragama di tengah meningkatkan ekstrimisme.

Pada bulan Januari 2009, Gus Dur mendorong warga Israel dan seluruh bangsa Yahudi untuk segera mengakui Palestina sebagai bangsa dan negara yang berdaulat. Agar dunia juga mengakui Israel sebagai bangsa dan negara merdeka. Pernyataan Gus Dur disampaikan secara terbuka di hadapan ribuan warga Yahudi Amerika di Los Angeles, AS.

Jika merunut linimasa interaksi Gus Dur dan Israel, kentara jelas jika jejak relasi Gus Dur dengan Israel sangat panjang, berliku, dan dia tak pernah menggunakan kesempatan untuk kepentingan diri sendiri dalam hubungan tersebut.

Sementara itu, jika menilik rekam jejak lima aktivis muda NU yang berkunjung ke Israel pada awal Juli lalu, proses dan barangkali motivasi mereka jauh berbeda dari apa yang sudah ditempuh Gus Dur. Mereka disponsori Israel, sementara Gus Dur tidak.

Apalagi, menurut informasi yang berseliweran di group aplikasi perpesanan WhatsApp, sebagaimana dilihat oleh Samudra Fakta, beredar kabar jika masing-masing lima aktivis muda NU itu mendapatkan uang saku Rp800 juta. ‘Sangu’ dari sponsor. Informasi tersebut, menurut pantauan Samudra Fakta, ditulis oleh sahabat Gus Dur, Habib Abdullah.

Namun, Zainul Maarif—salah satu aktivis NU yang ikut bertemu Presiden Isaac Herzog—menyatakan jika dia dan empat aktivis NU lainnya tidak mendapatkan keuntungan finansial dari kunjungan tersebut. Entah mana yang benar, yang jelas Zainul dkk. datang ke Israel di tengah genosida Israel terhadap warga Palestina.*

Pos terkait