Forum Guru Sertifikasi Nasional Indonesia (FGSNI) menolak rencana BGN memperluas penerima manfaat Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke guru. Mereka menuntut anggaran dialihkan ke tunjangan dan kesejahteraan.
__________
Badan Gizi Nasional (BGN) berencana memperluas jangkauan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke guru dan relawan posyandu mulai 2026. Presiden Prabowo Subianto sudah menyetujui usulan tersebut. Anggaran MBG juga naik tiga kali lipat, dari Rp71 triliun pada 2025 menjadi Rp268 triliun pada 2026.
Ketua Umum Forum Guru Sertifikasi Nasional Indonesia (FGSNI) Agus Mukhtar menolak keras kebijakan itu. “Lebih baik anggaran MBG untuk tambahan tunjangan kesejahteraan guru,” kata Agus kepada Samudrafakta, Selasa (16/9).
Agus menilai, jumlah guru yang jutaan orang akan menyedot anggaran sangat besar jika ikut menerima MBG. Ia menegaskan lebih tepat jika dana itu dialokasikan untuk kelanjutan program inpassing, pengangkatan guru PPPK swasta atau honorer, serta peningkatan insentif lain.
Ia juga mempertanyakan efektivitas program MBG untuk guru. Menurut Agus, selama ini tidak ada laporan guru mengalami kekurangan gizi. “Kita akan mengajak sekolah/madrasah atau yayasan penyelenggara pendidikan untuk tidak mengajukan nama guru ketika diminta dapur MBG. Rencananya besok Rabu (17/9),” ujarnya.
FGSNI bersama forum guru lain akan menyampaikan aspirasi penolakan ke Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Ditjen GTK Kemendikdasmen).
Agus juga menyoroti kebijakan di Sleman yang mewajibkan guru mencicipi makanan MBG sebelum dibagikan ke siswa. “Itu seolah-olah menjadikan guru sebagai kelinci percobaan,” kritiknya.
Menurutnya, guru tidak seharusnya dibebani tugas tambahan mengawasi distribusi, mendata penerima, hingga mengontrol kualitas makanan. Ia menyebut banyak guru honorer tidak mendapat insentif tambahan dari peran ini.
“Program MBG memang penting untuk memperbaiki gizi anak Indonesia. Tapi kesejahteraan guru tidak bisa terus berada di urutan belakang,” tandas Agus, pria kelahiran Kebumen itu.





