Momen Waisak kerap dimaknai sebagai waktu untuk berbagi dan mempererat tali persaudaraan melalui makanan yang disiapkan sukarela oleh umat. Bukan hanya untuk sesama pemeluk agama Buddha, tetapi juga bagi masyarakat umum. Menu apa yang biasanya hadir di momen-momen ini?
__________
Perayaan Waisak rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran aneka makanan khas yang sarat makna dan tradisi. Hidangan yang disajikan pada hari suci ini biasanya mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam ajaran Buddha—seperti kesederhanaan, kebersamaan, dan kasih sayang terhadap semua makhluk.
Biasanya umat Buddha menyiapkan makanan-terutama yang berbahan dasar nabati dalam suasana penuh ketenangan, sebagai bentuk penghormatan, persembahan, maupun wujud berbagi kepada sesama.
Berikut ini beberapa jenis makanan yang kerap hadir di atas meja hidangan saat perayaan Waisak, terutama di Indonesia:
1. Nasi Gemuk
Nasi gemuk merupakan salah satu makanan tradisional khas Jambi yang paling sering disajikan saat perayaan hari Waisak. Di sejumlah daerah, menu ini juga dikenal dengan nasi lemak.
Sajian satu ini memiliki berbagai macam komponen rempah. Sekilas mirip dengan nasi uduk.

Bahan-bahan dasar yang jadi kunci kelezatan nasi gemuk adalah santan, daun pandan, daun jeruk, dan daun salam. Dalam sepiring nasi gemuk, biasanya sudah terdapat telur rebus, teri, bawang goreng, kacang tanah goreng, dan sambal.
2. Kue Burgo
Kue burgo adalah makanan tradisional khas Palembang, yang menjadi salah satu hidangan yang kerap hadir pada saat perayaan Waisak. Jangan tertipu dengan namanya yang disebut “kue”, karena pada dasarnya, kue burgo memiliki rasa yang gurih. Bukan manis seperti umumnya kue lain.
Kue burgo ini mirip otak-otak. Berbahan dasar tepung beras yang dikukus, lalu digulung panjang-panjang. Biasanya kue burgo disajikan bersama kuah santan kuning, telur rebus, hingga ikan gabus.

3. Tempoyak
Warga Sumatra dan Kalimantan pasti sudah tidak asing dengan sajian yang satu ini. Tempoyak merupakan olahan dari fermentasi durian. Dengan aroma khas dan sedikit asam, tempoyak biasanya digunakan sebagai bahan tambahan untuk gulai.
Biasanya fermentasi buah durian akan dicampur dengan kuah pedas berbahan dasar cabai dan tomat segar. Tempoyak paling cocok dijadikan teman makan nasi hangat.
4. Nasi Lesah
Beralih ke Jawa Tengah, terdapat kuliner tradisional yang biasa dihidangkan pada saat perayaan Waisak: ialah nasi lesah, atau nasi yang direndam kuah soto kental. Secara tampilan kerap disebut mirip soto betawi.

Menariknya, jika soto identik disajikan di dalam mangkuk, nasi lesah disajikan dalam piring. Seperti soto pada umumnya, seporsi nasi lesah sudah dilengkapi dengan suwiran ayam, bihun, serta potongan kubis.
5. Mangut Beong
Mangut beong adalah salah satu hidangan khas asal Magelang, Jawa Tengah, yang sering ditemukan ketika perayaan Waisak.
Mangut merupakan sebuah olahan berkuah yang identik dengan citarasa pedas. Sementara beong merupakan salah satu jenis ikan endemik yang banyak ditemukan di sungai. Bentuknya mirip lele, tapi lebih besar dan terdapat daging yang cukup banyak di bagian kepalanya.

Apabila penasaran dengan rasanya, tak jauh dari kawasan Candi Borobudur, Anda dapat mengunjungi Rumah Makan Sehati Selera Pedas, salah satu tempat makan legendaris yang menjajakan mangut beong.***





