Bukan Gawai, Justru Permainan Tradisional Lebih Menyehatkan Bagi Jiwa Raga Anak Indonesia

Bermain merupakan hal yang mengasyikkan bagi anak-anak, terutama permainan tradisional. Kebanyakan permaianan tradisional dimainkan secara bersama-sama atau berkelompok.  Beberapa manfaat dari permainan tradisional, di antaranya:

1.) Anak menjadi kreatif

2.) Mengembangkan kecerdasan logika anak

Bacaan Lainnya

3.) Mengembangkan kecerdasan kinestetik anak

4.)  Bisa digunakan sebagai terapi untuk anak.

5.) Mengembangkan kecerdasan intelektual anak.

6.)  Mengembangkan kecerdasan emosi antarpersonal bagi anak.

7.) Mengembangkan kecerdasan natural anak, dan 8.)  Mengembangkan kecerdasan musikan anak.

Dalam permainan tradisional juga terkandung nilai-nilai, seperti:

  1. Nilai kejujuran.  Permainan tradisional melatih kejujuran seseorang. Artinya jika berbuat kesalahan maka akan kalah dan permainannya diganti. Selain itu tidak curang untuk memenangkan permainan.
  2. Nilai sportivitas  Dalam permainan tradisional ada sikap mematuhi aturan permainan. Setiap pemain harus mengikuti aturan yang disepakati. Jika pemain mengikuti aturan dan tidak berbuat curang, maka ia akan memenangkan permainan.
  3. Nilai kerja sama. Nilai kerja sama dalam permainan rakyat dapat dilihat dalam tim bermain. Kekompakan tim menjadi kunci memenangkan permainan. Sebaliknya, jika tim tidak kerja sama, maka tidak akan menang.
  4. Nilai kecerdasan dan ketangkasan  Untuk mengalahkan lawan bermain tidak hanya dengan ketangkasan, tetapi juga harus memikirkan strategi. Berpikir untuk memperoleh kemenangan tanpa berbuat curang. Dengan strategi yang bagus, kemenangan dapat diraih.
  5. Nilai kepemimpinan Dalam permainan dipimpin oleh ketua atau induk, sedangkan pemain lainnya menjadi anggota. Tugas pemimpin adalah untuk mengatur anggota kelompoknya dan menyusun strategi untuk memenangkan permainan. Kepemimpinan yang baik akan menghasilkan kerja sama yang baik pula.
  6. Nilai tenggang rasa Kelompok satu menghormati kelompok lainnya dan menghargai orang lain. Nilai solidaritas  Permainan tradisional juga menumbuhkan rasa solidaritas. Kelompok yang menang akan menghibur kelompok yang kalah dan yang kalah akan menerima kekalahannya.

Soal nguri-nguri dan memasyarakatkan kembali permainan tradisional, bangsa ini bisa meniru Jepang. Negara ini tidak hanya memproduksi film dan lagu anak-anak, tetapi juga bergerak lewat jalur pendidikan. Jepang memasukkan permainan  dalam kurikulum sekolah.

Wendy Koshino dalam Amazing Japan (2018) mengisahkan bahwa dari TK hingga SD, anak-anak Jepang akan diajarkan untuk akrab dengan mainan tradisional seperti nawatobi atau lompat tali, koma atau gasing dan permainan lainnya.

Dalam bukunya, Wendy menyebut : “Negara yang sudah sangat canggih dan modern dalam segala bidang, tetap tidak lupa dan tidak ingin melupakan budaya tradisional termasuk mainan tempo dulu yang dimainkan para leluhurnya.” Jepang sadar, permainan akan memenuhi kebutuhan jiwa sekaligus raga dalam diri anak-anak.

Pos terkait