Roblox, platform gim daring yang digandrungi jutaan anak Indonesia, di ujung tanduk. Pemerintah mempertimbangkan pemblokiran, menyusul kekhawatiran banyak pihak terkait konten kekerasan dan eksploitasi di dalamnya.
__________
Pemerintah Indonesia tengah menyoroti sebuah platform permainan daring yang tengah naik daun di kalangan anak-anak dan remaja: Roblox.
Popularitasnya tak bisa dipungkiri, tetapi belakangan, Roblox menjadi perhatian karena dituding menyimpan konten kekerasan dan tidak ramah anak. Isu ini berkembang cepat, hingga muncul wacana pemblokiran di Indonesia.
Platform Game atau Ladang Bahaya?
Roblox adalah platform permainan daring asal Amerika Serikat (AS) yang diluncurkan pada tahun 2006 oleh Roblox Corporation. Tak seperti gim konvensional, Roblox memungkinkan penggunanya untuk membuat dan memainkan gim mereka sendiri, menggunakan alat bernama Roblox Studio.
Ribuan bahkan jutaan gim—disebut experience—dibuat oleh para pengguna dan bisa diakses siapa saja secara bebas.
Saking populernya, Roblox memiliki lebih dari 65 juta pengguna aktif harian di seluruh dunia. Banyak di antaranya adalah anak-anak berusia 7–14 tahun.
Namun, di balik popularitas itu, sejumlah kalangan mulai mempertanyakan keamanan dan dampak psikologis dari gim-gim di dalam Roblox.
Menteri hingga KPAI Angkat Bicara
Isu kekhawatiran ini mencuat setelah Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, memberikan peringatan terbuka dalam sebuah acara sekolah di Jakarta pada Sabtu, 4 Agustus 2025. Ia menyebut nama Roblox secara langsung, meminta anak-anak untuk menjauhi permainan tersebut.
“Kalau main HP tidak boleh menonton kekerasan. Yang main [Roblox] itu jangan main yang itu ya, karena itu tidak baik,” kata Mu’ti, dalam pidatonya.
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, juga memberi sinyal tegas. Dalam keterangannya kepada media pada Selasa, 6 Agustus 2028, ia menyatakan bahwa pemerintah membuka kemungkinan pemblokiran Roblox jika terbukti mengandung unsur negatif.
“Kalau memang itu mengandung unsur‑unsur kekerasan, ya kita tutup, enggak ada masalah. Kalau mempengaruhi perilaku dari adik‑adik kita, tidak menutup kemungkinan [diblokir],” ujar Prasetyo.





