Aturan Medsos Anak 16 Tahun Dinilai Hanya Simbolik Jika Algoritma Tak Diatur

Pembatasan akses medsos
Ilustrasi anak bermain hp. - Pixabay
Pemerintah akan membatasi akun media sosial bagi anak di bawah 16 tahun mulai 28 Maret 2026. Pakar menilai kebijakan ini berisiko simbolik jika algoritma platform yang mendorong adiksi tidak ikut diatur.

Pemerintah Indonesia resmi memberlakukan pembatasan akun media sosial untuk anak di bawah usia 16 tahun mulai 28 Maret 2026. Kebijakan ini berlaku untuk sejumlah platform populer seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga gim daring Roblox.

Langkah ini diambil sebagai upaya melindungi anak dari berbagai risiko di ruang digital. Mulai dari paparan konten berbahaya, perundungan siber, hingga potensi kecanduan media sosial yang semakin mengkhawatirkan.

Pakar: Algoritma Juga Harus Diatur

Menanggapi kebijakan tersebut, Pakar Kajian Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Radius Setiyawan menilai persoalan media sosial tidak hanya soal usia pengguna. Menurutnya, cara kerja algoritma platform digital juga perlu mendapat perhatian serius.

Bacaan Lainnya

“Masalahnya bukan hanya siapa yang boleh mengakses, tetapi bagaimana algoritma mendorong pengguna terus berada di dalam platform tersebut. Artinya, kalau algoritmanya tidak diatur, pembatasan usia bisa saja hanya menjadi kebijakan simbolik,” ujar Radius, dikutip Senin (9/3/2026).

Radius menjelaskan bahwa algoritma media sosial saat ini dirancang untuk membuat pengguna betah berlama-lama di platform. Caranya dengan menampilkan konten yang paling menarik perhatian, yang sering kali bersifat sensasional, ekstrem, atau memancing emosi.

Cara Kerja Algoritma dan Risiko bagi Anak

Platform seperti TikTok dan YouTube menggunakan sistem rekomendasi yang membaca perilaku pengguna, mulai dari video yang ditonton, interaksi, hingga durasi menonton. Data tersebut kemudian digunakan untuk menyajikan konten yang dianggap paling menarik.

Dalam beberapa kasus, sistem ini dapat membuat pengguna, terutama anak-anak, terus diarahkan pada konten yang semakin ekstrem atau tidak sesuai dengan usia mereka. Tanpa intervensi, anak bisa terpapar materi berbahaya secara berkelanjutan.

Pos terkait