Ancaman Siklon Tropis Makin Nyata, BRIN Sebut Indonesia Tak Lagi Aman

Tiga bibit siklon tropis terpantau aktif di sekitar wilayah Indonesia pada awal Maret 2026 dan berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di sejumlah daerah. - BMKG
Perubahan iklim dan pemanasan laut memicu pergeseran siklon tropis. BRIN menegaskan Indonesia kini tak lagi berstatus aman.

​Dulu, banyak orang menganggap Indonesia sangat aman dari intaian siklon tropis karena posisinya yang berdekatan dengan garis khatulistiwa. Namun, temuan terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membawa kabar yang mengharuskan kita lebih waspada.

Kondisi iklim saat ini berubah drastis, sehingga Indonesia makin rawan menghadapi ancaman badai dahsyat tersebut.

​Hasil riset mutakhir BRIN menunjukkan tren peningkatan intensitas sekaligus pergeseran wilayah pembentukan siklon. Pemicu utamanya bermuara pada perubahan iklim global dan suhu permukaan laut yang makin menghangat.

Bacaan Lainnya
​Mengapa Posisi Indonesia Tak Lagi Aman?

​Selama bertahun-tahun, letak geografis memang menjadi tameng alami Nusantara. Sayangnya, fenomena pemanasan global perlahan mengikis perlindungan tersebut.

​Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa suhu perairan yang meningkat drastis mempermudah terbentuknya siklon di wilayah nusantara.

​”Indonesia bukan lagi wilayah yang aman dari siklon. Suhu laut yang semakin hangat membuat peluang terbentuknya siklon semakin besar, bahkan lebih dekat ke wilayah kita,” jelas Yosef.

​Ratusan Siklon Telah Singgah di Nusantara

​Ancaman ini bukan sekadar prediksi di atas kertas. Berdasarkan analisis data rentang tahun 1990 hingga 2023, para peneliti mencatat ratusan siklon telah ‘mampir’ ke wilayah selatan Indonesia. Bahkan, puluhan di antaranya benar-benar terbentuk tepat di dalam teritori perairan nusantara.

​Kita tentu masih ingat tragedi Siklon Seroja pada 2021 lalu. Bencana ini menjadi contoh nyata sekaligus peringatan keras bagi Indonesia. Saat itu, Siklon Seroja memicu hujan badai, banjir bandang, hingga merenggut banyak korban jiwa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kombinasi faktor cuaca global dan suhu laut yang hangat membuat cuaca ekstrem semacam ini makin mudah terjadi dan berlangsung lebih lama.

​Teknologi AI dan Pentingnya Siaga Bencana

​Menghadapi situasi yang tak lagi sama, BRIN meminta seluruh elemen masyarakat untuk mulai meningkatkan kesiagaan. Yosef mendorong berbagai upaya adaptasi, mulai dari membangun infrastruktur tahan angin, memperkuat sistem drainase perkotaan, hingga merehabilitasi hutan mangrove di wilayah pesisir.

Pos terkait