Ampas Kopi BRIN Jadi Minyak Bernilai

Ilustrasi ampas kopi. Peneliti BRIN sukses menyulapnya jadi minyak bernilai tinggi untuk kosmetik dan pangan. - ISTIMEWA
Peneliti BRIN mengolah ampas kopi menjadi minyak bioaktif bernilai tinggi untuk bahan kosmetik, pangan, dan industri nutrasetikal berkelanjutan.

Ampas kopi kini tak lagi berhenti sebagai limbah kedai. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fawzan Sigma Aurum, mengembangkan riset pengolahan sisa seduhan kopi menjadi minyak bernilai tinggi untuk industri kosmetik dan pangan.

Mengutip laporan ANTARA, Fawzan yang berasal dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN menggunakan pendekatan panganomik modern untuk membaca kandungan penting dalam limbah kopi secara lebih presisi.

“Riset ini dilakukan melalui pendekatan foodomics modern yang menggabungkan teknologi ekstraksi hijau dengan analisis metabolomics dan lipidomics canggih,” kata Fawzan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Bacaan Lainnya
Ekstraksi Hijau Lebih Menjanjikan

Riset itu menguji beberapa metode ekstraksi minyak dari ampas kopi. Hasilnya, ekstraksi berbantuan ultrasonik atau UAE dengan pelarut etanol dinilai paling efisien karena menghasilkan rendemen tinggi dan komposisi bioaktif yang lebih baik.

Metode tersebut juga mampu menjaga tingkat oksidasi lipida tetap rendah. Artinya, minyak yang dihasilkan berpotensi lebih stabil, tidak cepat rusak, dan lebih layak dikembangkan sebagai bahan baku industri bernilai tambah.

Selain UAE, metode karbon dioksida superkritis dengan tambahan etanol juga dinilai efektif mempertahankan kualitas senyawa bioaktif dalam minyak kopi.

Bukan Sekadar Limbah Kedai

Sebaliknya, metode Soxhlet yang lazim dipakai untuk ekstraksi lemak dan minyak memang menghasilkan rendemen paling tinggi. Namun, proses pemanasan panjang justru memicu oksidasi lipida lebih besar sehingga kualitas minyak menurun.

Penelitian ini juga mendeteksi sejumlah senyawa penting, antara lain asam kafeoilkuinat, asam kafeat, asam feruloilkuinat, dan asam glutamat. Senyawa itu berkorelasi dengan keberadaan lipida non-oksidatif dan komponen bioaktif lain.

Fawzan berharap riset ini membuka jalan pemanfaatan limbah kopi sebagai sumber bahan baku baru bagi industri pangan, kosmetik, dan nutrasetikal di Indonesia.

Dengan teknologi yang tepat, ampas kopi bukan hanya mengurangi beban lingkungan. Ia juga bisa masuk ke rantai ekonomi baru yang memberi nilai tambah bagi pelaku industri dan riset pangan nasional.***

Pos terkait