Cuaca Ekstrem Jadi Normal Baru, Pola Badai Dunia Tak Lagi Musiman

Cuaca ekstrem tak lagi musiman. Hujan lebat, banjir, dan longsor kian sering terjadi seiring perubahan iklim, menandai “normal baru” yang berdampak langsung pada kehidupan dan pangan di Indonesia. — AI Generate
Cuaca ekstrem kian sering terjadi. Ilmuwan menyebut dunia memasuki fase iklim “normal baru”.

Badai besar, hujan ekstrem, banjir bandang, hingga gelombang panas kini tidak lagi dianggap sebagai peristiwa langka. Para ilmuwan menyatakan dunia sedang memasuki fase “normal baru” cuaca ekstrem, di mana kejadian iklim dengan dampak besar terjadi lebih sering dan dengan intensitas yang meningkat.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) mencatat, dalam dua dekade terakhir frekuensi kejadian cuaca ekstrem seperti hujan lebat, banjir, dan gelombang panas meningkat seiring kenaikan suhu global. Perubahan tersebut berkaitan langsung dengan meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menjelaskan bahwa atmosfer yang lebih hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Setiap kenaikan suhu udara sekitar satu derajat Celsius dapat meningkatkan kapasitas uap air hingga sekitar tujuh persen, yang kemudian memperkuat hujan ekstrem dan energi badai.

Bacaan Lainnya

Dampak perubahan pola iklim ini terlihat di berbagai wilayah dunia. Reuters melaporkan, banjir besar di Afrika bagian selatan dipicu kombinasi fenomena La Niña dan suhu permukaan laut yang lebih hangat. Kondisi tersebut meningkatkan intensitas curah hujan secara signifikan dibandingkan periode pra-industri.

Di Amerika Utara dan Eropa, sejumlah analisis atribusi iklim menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya hujan ekstrem dan banjir besar yang sebelumnya tergolong jarang. Pola serupa juga dilaporkan di kawasan Asia, termasuk Asia Tenggara.

Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tren peningkatan kejadian cuaca ekstrem dalam 10 hingga 15 tahun terakhir. BMKG menyebut hujan sangat lebat dalam durasi singkat semakin sering terjadi, terutama pada masa peralihan musim, sehingga meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor di berbagai daerah.

BMKG menegaskan bahwa perubahan iklim tidak berarti cuaca ekstrem terjadi setiap hari. Namun, peluang terjadinya peristiwa ekstrem dalam satu tahun menjadi jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. Artinya, kejadian yang dahulu dikategorikan sebagai bencana dengan periode ulang puluhan hingga ratusan tahun kini dapat terjadi dalam selang waktu yang lebih pendek.

Pos terkait