Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dan menewaskan sedikitnya 1.300 orang menjadi peringatan serius mengenai dampak nyata krisis iklim global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut fenomena tersebut sebagai darurat kesehatan yang semakin sering terjadi akibat pemanasan global.
WHO melaporkan ruang gawat darurat di sejumlah negara Eropa penuh sesak, layanan ambulans mencatat rekor panggilan tertinggi, dan angka kematian terkait suhu panas terus bertambah.
Di Prancis, panggilan medis darurat meningkat hingga 50 persen di beberapa kota. Di London, layanan ambulans mencatat jumlah panggilan darurat yang mengancam jiwa tertinggi dalam satu hari. Sementara itu, Spanyol memperkirakan lebih dari 300 kematian berlebih akibat panas hanya dalam beberapa hari, sedangkan Italia melaporkan lima kematian dalam waktu 24 jam.
Suhu di sejumlah negara juga memecahkan rekor. Jerman mencatat suhu hingga 41,7 derajat Celsius, sedangkan Polandia mencapai 40,5 derajat Celsius. Total korban tewas akibat gelombang panas lebih dari 1300 orang.
Ahli Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Stasiun Pemantau Atmosfer Global (SPAG) Lore Lindu Bariri, Sulawesi Tengah, Mudayu Ekaning Prastiwi, S.Tr.Klim, menilai banyak pelajaran yang bisa dipetik dari peristiwa gelombang panas tersebut. Menurut dia. para ahli sudah menjelaskan suhu ekstrem di Eropa dipicu oleh fenomena kubah panas (heat dome), yakni kondisi ketika udara yang turun terkompresi dan memanas sehingga menghambat pembentukan awan.
Kondisi tersebut sering kali diperkuat oleh pola cuaca omega block, yang mengunci sistem udara panas di suatu wilayah selama berhari-hari. Namun, tingginya angka kematian di Eropa tidak hanya dipicu oleh suhu yang ekstrem, melainkan juga dipengaruhi faktor demografi dan infrastruktur. Mayoritas bangunan tua di Eropa dirancang untuk menahan panas guna menghadapi musim dingin yang panjang. Diperkirakan hanya sekitar 19 persen rumah di Eropa yang dilengkapi pendingin ruangan (AC), jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Akibatnya, ketika gelombang panas terjadi, banyak rumah berubah menjadi ruang yang menyimpan panas dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Sekitar 22 persen populasi Uni Eropa merupakan warga berusia 65 tahun ke atas, kelompok yang paling rentan terhadap serangan panas fatal atau heatstroke. Selain itu, udara lembap dari perairan di sekitar Eropa dapat membuat suhu terasa 5 hingga 10 derajat Celsius lebih panas daripada angka yang tercatat di termometer.
Kondisi diperparah dengan suhu malam yang tidak kunjung turun. Di Prancis, suhu malam hari dilaporkan bertahan pada kisaran 26 hingga 28 derajat Celsius sehingga tubuh kehilangan kesempatan penting untuk beristirahat dan mendinginkan diri.
Apakah Gelombang Panas Bisa Terjadi di Indonesia?
Berdasarkan penjelasan resmi BMKG, fenomena gelombang panas (heatwave) secara teknis tidak terjadi di Indonesia. Gelombang panas umumnya terjadi di wilayah lintang menengah hingga tinggi akibat udara panas yang terperangkap dalam sistem tekanan tinggi berskala luas. Sebaliknya, Indonesia yang berada di wilayah ekuator memiliki variabilitas cuaca yang cepat dan dinamika atmosfer yang berbeda.
Yang umum terjadi di Indonesia adalah peningkatan suhu harian akibat cuaca cerah dan minim tutupan awan, terutama saat memasuki musim kemarau. Meski demikian, Mudayu menjelaskan bahwa dampak suhu ekstrem tetap perlu diwaspadai apabila terjadi anomali iklim yang memicu suhu sangat tinggi di Indonesia.
“Kelembapan bertindak sebagai pengali dari tingkat bahaya suhu udara karena menghambat penguapan keringat, padahal penguapan merupakan mekanisme utama tubuh untuk mendinginkan diri,” jelasnya.
Karena Indonesia memiliki tingkat kelembapan alami yang tinggi, risiko kelelahan panas dan heatstroke dapat meningkat drastis meskipun suhu absolut tidak mencapai 40 derajat Celsius seperti di Eropa.
Ancaman Karhutla hingga Pemutihan Karang
Cuaca ekstrem global saat ini juga memicu berbagai bencana ekologis. Di Eropa, suhu panas di daratan diiringi gelombang panas laut (marine heatwave) di kawasan Mediterania dengan suhu permukaan laut mencapai 8 derajat Celsius di atas rata-rata. Sementara itu, wilayah Amerika Serikat bagian barat tengah menghadapi ancaman kebakaran hutan masif yang menghanguskan jutaan hektare lahan akibat kondisi cuaca yang kering dan berangin.
Terkait Indonesia, BMKG terus mengingatkan masyarakat untuk bersiap menghadapi puncak musim kemarau dan potensi El Niño guna memastikan ketersediaan pasokan air. Jika kekeringan ekstrem dan suhu harian yang sangat tinggi berlangsung lama di Indonesia, dampak ekologisnya diperkirakan meliputi:
- meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut;
- pelepasan emisi karbon dalam jumlah besar akibat kebakaran lahan gambut;
- meningkatnya risiko krisis air pada musim kemarau;
- pemutihan karang (coral bleaching) massal yang mengancam keanekaragaman hayati laut.
UNEP Dorong Pendinginan Pasif
Menyikapi eskalasi krisis iklim, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan agar negara-negara tidak bergantung sepenuhnya pada penggunaan AC konvensional. Selain mengonsumsi energi dalam jumlah besar, penggunaan gas refrigeran pada AC juga berpotensi memperparah pemanasan global.
UNEP mendorong penerapan konsep pendinginan pasif, seperti memperbanyak penanaman pohon, membangun ruang perlindungan iklim, serta menerapkan tata kota yang mampu mengurangi dan mendisipasi panas.
Sementara itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk menjaga hidrasi, mengurangi aktivitas berlebihan saat cuaca terik, dan menjaga daya tahan tubuh sebagai langkah antisipasi menghadapi cuaca panas ekstrem.***





