Para pakar menilai kondisi ini menuntut penguatan sistem peringatan dini, penyesuaian infrastruktur, serta kebijakan mitigasi dan adaptasi iklim yang lebih serius. Tanpa langkah tersebut, dampak sosial dan ekonomi akibat cuaca ekstrem diperkirakan akan terus meningkat.
Cuaca ekstrem, yang sebelumnya dipandang sebagai pengecualian, kini perlahan menjadi bagian dari pola iklim global yang baru.
Cuaca Ekstrem di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, peningkatan frekuensi cuaca ekstrem berimplikasi langsung terhadap bencana hidrometeorologi. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa banjir dan tanah longsor masih menjadi bencana paling dominan dalam beberapa tahun terakhir, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi seperti Pulau Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.
Curah hujan intens dalam durasi singkat kerap melampaui kapasitas sungai dan sistem drainase, memicu banjir cepat di kawasan permukiman serta longsor di daerah perbukitan.
Dampak lanjutan juga dirasakan pada sektor ketahanan pangan. Kementerian Pertanian mencatat bahwa perubahan pola hujan dan kejadian ekstrem berulang mengganggu kalender tanam, meningkatkan risiko gagal panen, serta memperbesar ancaman banjir dan kekeringan pada sentra produksi pangan.
Kondisi ini mendorong pemerintah untuk menyesuaikan strategi produksi, termasuk melalui penguatan sistem peringatan dini cuaca, pengelolaan air, dan adaptasi pertanian terhadap risiko iklim yang semakin tidak menentu.***





