Bukan Gawai, Justru Permainan Tradisional Lebih Menyehatkan Bagi Jiwa Raga Anak Indonesia

Selanjutnya, berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa 5 dari 10 anak mengalami kecanduan gawai hingga membuatnya tidak fokus belajar karena pikirannya asyik pada games yang dimainkan di rumah (Harsela & Qalbi, dalam Dampak Permainan Gadget dalam Mempengaruhi Perkembangan Kognitif Anak di TK Dharma Wanita Bengkulu, Universitas Bengkulu, 2020); kemampuan anak dalam berkonsentrasi juga akan menurun dan mudah terdistraksi (CNA, 2021; Ricci dkk., 2022; Siregar & Yaswinda, 2022).

Selain itu, anak bisa jadi terlalu mengandalkan gawai dalam memecahkan masalahnya sehingga perkembangan otaknya kurang terstimulasi (CNA, 2021). Penggunaan yang berlebihan juga dapat menghambat perkembangan berbahasa anak (Ricci dkk., 2022; Siregar & Yaswinda, 2022). Kecanduan main gawai juga dapat membuat anak-anak mengalami kesulitan dalam bersosialisasi, pemalu, dan cenderung menarik diri dari lingkungan sekitarnya.

Selain itu, sangat mungkin anak enggan untuk bersosialisasi karena gawai lebih menarik baginya (CNA, 2021), anak lebih memilih gawainya daripada mematuhi orangtua, bahkan marah (Siregar & Yaswinda, 2022).

Bacaan Lainnya

Penggunaan gawai yang berlebihan juga berdampak negatif bagi kesehatan tubuh. Ketika anak lebih sering bermain gawai daripada melakukan aktivitas fisik, maka hal ini rawan memicu obesitas (CNA, 2021). Penggunaan gawai secara berlebihan juga dapat menurunkan jumlah jam tidur anak karena anak lebih tertarik untuk memainkan gawainya (LeBourgeois dkk., 2017).

Selain kuantitas jam tidur, gawai juga berdampak negatif pada kualitas tidur anak, khususnya ketika dimainkan menjelang jam tidur. Tak hanya itu, cahaya yang dipancarkan gawai memberi sinyal pada tubuh untuk terjaga, bukannya mengantuk (Centers for Disease Control and Prevention, 2023; Ricci dkk., 2022). Apabila dibiarkan, menurunnya kualitas tidur berdampak negatif bagi sistem imun dan suasana hati anak (CNA, 2021; Miranti & Putri, 2021).

Dokter spesialis anak, sekaligus anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia I Gusti Ayu Trisna Windiani mengungkap bahwa 65% anak Indonesia mengalami temper tantrum. Perilaku negatif ini terjadi akibat penggunaan gawai lebih dari 20 menit per hari, sehingga terjadi peningkatan risiko terjadi tantrum sebesar 0,375 kali lipat.

“Penelitian terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa anak yang menonton atau mendapatkan paparan gadget lebih dari 20 menit itu 65,1% mengalami temper tantrum karena penggunaan atau paparan gadget yang terlalu lama itu mengubah perilaku, yaitu akan terjadi perilaku yang negatif,” katanya saat menjadi narasumber dalam seminar Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pada Selasa (23/4/2024).

Tantrum adalah kondisi saat seorang anak menunjukkan ledakan kemarahan dan frustrasi yang tidak terkendali. Biasanya, tantrum pada anak terlihat ketika ia meluapkan ledakan emosi kemarahan dengan merengek rewel, berteriak histeris, memukul, menendang-nendang, ataupun berguling-guling di lantai.Ketika tantrum, anak akan berperilaku agresif atau marah.

Meski tantrum pada anak merupakan suatu perkembangan normal yang terjadi. Namun, dalam beberapa kasus dapat menjadi kondisi yang abnormal. Tantrum biasanya dialami anak pada usia 18 bulan sampai 4 tahun. Ketika anak berusia 2 tahun persentase tantrum sampai 20% dan angka tersebut terus turun seiring usia anak bertambah.

Pos terkait