Waktunya Timur Merebut Kembali Narasinya

Ilustrasi.

Media dan teknologi menjadi medan baru dalam perang narasi. Selama kisah tentang kita masih ditulis dari kacamata luar, dunia hanya melihat Timur sebagai yang eksotis dan tertinggal. Kini saatnya kita menguasai algoritma dan bahasa mesin, agar AI masa depan juga mengenal naskah Jawa Kuno, hikayat Melayu, dan serat Suluk — agar data pun punya jiwa.

Edward Said pernah menulis, orientalisme bukan soal kebencian, tapi soal kekuasaan atas definisi. Karena itu, merebut narasi bukan sekadar retorika, tapi tanda peradaban. Dunia ini bukan milik satu mata angin — dan mungkin, setelah berabad-abad redup, cahaya itu akan kembali terbit dari Timur.

Selengkapnya baca di sini.

Bacaan Lainnya

Pos terkait