Selama ini dunia mengenal kita lewat tulisan orang lain. Kini saatnya kita menulis diri sendiri.
Selama berabad-abad, kisah tentang siapa kita, dari mana kita datang, dan ke mana kita menuju, seolah ditulis oleh tangan orang lain. Timur menjadi penonton dalam sejarah yang dulu ia mulai sendiri. Tapi dunia tak harus terus begini — sebab masa depan hanya dimiliki oleh mereka yang berani menulis ulang peta pikirannya sendiri.
Langkah pertama merebut narasi adalah mengingat kembali siapa kita. Pendidikan di negeri Timur terlalu lama bercermin pada Barat: mengenal logika Aristoteles tapi melupakan logika Tan Malaka, menghafal teori Durkheim tapi menutup mata pada kearifan Kiai Sholeh Darat. Padahal, ilmu bukan milik bangsa mana pun — tafsirnya lah yang menentukan siapa yang berkuasa atas makna.





