Hujan lebat berdurasi singkat, petir, angin kencang, serta kemungkinan angin puting beliung dan hujan es di beberapa wilayah menjadi ancaman yang harus diantisipasi
__________
Hujan belum reda sejak Ahad, 30 Maret 2025, siang ketika Ari Rajeb (35) melangkah keluar rumahnya di Kelurahan Sasa, Kota Ternate. Guyuran air dari langit tak kunjung berhenti, menggenangi jalan-jalan hingga masuk ke rumah-rumah warga. Di sudut lain kota, di Kecamatan Pulau Ternate, air terus naik, merendam pemukiman di Jambula, Kastela, Rua, dan Gambesi.
Bencana datang di tengah perayaan Idulfitri 1446 Hijriah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, banjir yang melanda Ternate pada Senin, 31 Maret 2025, merupakan bagian dari rangkaian bencana yang terjadi sejak akhir bulan Maret 2025. Cuaca ekstrem menjadi biang keladinya.
Ari Rajeb, salah satu warga terdampak, harus dilarikan ke RSUD Hasan Boesoiri Ternate akibat luka berat yang dideritanya. Sementara itu, 82 jiwa lainnya turut merasakan dampak banjir ini. Beberapa memilih mengungsi ke rumah kerabat, sementara sebagian lagi menetap di gedung serba guna Kelurahan Kastela. Data sementara menunjukkan 46 rumah terdampak, tujuh unit kos-kosan mengalami kerusakan, dan satu talud roboh diterjang derasnya arus air.
Pemerintah daerah bergerak cepat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate langsung turun ke lapangan, melakukan kajian cepat, berkoordinasi dengan berbagai pihak, serta menyalurkan bantuan kepada para korban. Kasur lipat dan paket kebutuhan keluarga didistribusikan demi memastikan para pengungsi memiliki perlindungan dan kehangatan sementara.
Bukan hanya Ternate, banjir juga melanda Kabupaten Halmahera Selatan sejak Sabtu, 22 Maret 2025 lalu. Meskipun air mulai surut, dampaknya masih terasa. Sepuluh desa di empat kecamatan terdampak, dengan 375 rumah rusak dan 1.082 jiwa terkena imbasnya. Sebanyak 94 orang masih bertahan di lokasi pengungsian, seperti SMP Negeri Halsel dan SDN 112 Amasing, menunggu kondisi kembali normal.





