Syekh Hasanuddin “Quro” Karawang, Peletak Dakwah Islam di Jawa Barat

Masih menurut naskah Purwaka Caruban Nagari, Syekh Quro adalah seorang ulama dari Champa. Beliau adalah putra Ulama besar Perguruan Islam dari Champa bernama Syekh Yusuf Siddik. Beliau masih ada garis keturunan dari Syekh Jumadil Kubro dan kakeknya, Syekh Jalaluddin, seorang ulama dari Mekkah. Dari garis nasab ibunya yang bernama Dyah Kirana.

Di dalam Naskah Nagarakretabhumi sarga III disebutkan bahwa Syekh Hasanuddin memiliki putra bernama Syekh Bentong, yang menikah dengan seorang Muslimah China bernama Siu The Yo. Syekh Bentong dikenal sebagai juragan kaya raya dan tinggal di Gresik. Dia memiliki putri bernama Nay Retna Siu Ban-ci, yang kemudian diperisteri Prabhu Brawijaya V Raja Majapahit, yang menurunkan Raden Patah Sultan Demak. Jika sumber naskah Nagarakretabhumi ini otentik, berarti Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro Karawang adalah kakek buyut Raden Patah Sultan Demak dari jalur ibu.

Sementara itu, menurut situs resmi Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat, Syekh Hasanuddin Quro menikah dengan Ratna Sondari, dan dari pernikahan ini lahirlah Syekh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang. Syekh Quro memiliki seorang santri yang berjasa dalam upayanya menyebarkan Islam, yaitu Syekh Abdulah Dargom—yang merupakan keturunan Usman ibn Affan ra—atau yang lebih dikenal dengan nama Tan Go.

Bacaan Lainnya

Syekh Quro menugaskan para santrinya untuk menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Karawang, tepatnya Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan, dan Tegalwaru. Sedangkan putranya ditugaskan meneruskan perjuangannya dalam menyebarkan ajaran Islam di Pesantren Quro—yang sekarang dikenal dengan Masjid Agung Karawang.

Makam Syekh Quro terletak di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang. Lokasinya terletak sekitar 30 kilometer di sebelah timur laut kota Karawang. Makam Syekh Quro Karawang dan Makam Syekh Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin, alias Pangeran Sambri, dan Syech Tolha pada tahun 1859 M atau pada abad ke – 19.

Raden Somaredja dan Syech Tolha sendiri ditugaskan oleh Kesultanan Cirebon untuk mencari makam Mahaguru leluhur Cirebon bernama Syekh Quro. Bukti bahwa makam Syekh Quro Karawang berada di Pulo Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, divalidasi oleh Sunan Kanoman Cirebon, yaitu Pangeran Haji Raja Adipati Jalaluddin, saat berkunjung ke tempat itu. Ditambah lagi verifikasi dari surat penjelasan sekaligus pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII Nomor:P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 pada tanggal 05 November 1992, yang ditujukan kepada Kepala Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang.

Di sebelah gerbang sisi Barat makam Syekh Quro terdapat dua plakat, salah satunya tertulis wejangan Syekh Quro: “Ingsun titip masjid langgar lan fakir miskin anak yatim dhuafa“. Wejangan ini mirip dengan wejangan yang pembaca akan temui saat berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Haul Syekh Quro diadakan setiap bulan Sya’ban, tepatnya tanggal 25-26 Sya’ban, saban tahunnya. Acara haul digelar di kompleks Makam Syekh Quro Karawang.

Satu peninggalan penting lain dari Syekh Quro adalah berupa masjid yang Sekarang menjadi Masjid Agung Karawang. Dikutip dari laman resmi Masjid Agung Syekh Quro Karawang Rahmatan Lil’alamin: https://www.masjidagung.id/idarah/sejarah/ . Masjid Agung Syekh Quro Karawang didirikan pada tahun 1418 M/838 H oleh Syekh Hasanudin bin Yusuf Sidik (Syekh Quro), Syekh Abdurrahman, dan Syekh Maulana Idhofi.[—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

 

Pos terkait