Bekat cara dakwah Syekh Hasanuddin yang simpatik, yang mengurai agama Islam sehingga mudah dipahami, dan karena keindahan suaranya dalam melantunkan Al-Qur’an, penduduk setempat banyak yang tertarik dan dengan sukarela mengikrarkan diri masuk Islam. Karena keindahan suaranya dalam membaca Al-Qur’an itulah Syekh Hasanuddin kemudian dikenal dengan sebutan Syekh Quro atau Syekh Kuro, yang bermakna “ahli membaca Al-Quran”.
Menurut sejarawan Agus Sunyoto, Bandar Karawang—tempat dakwah Syekh Hasanuddin Quro—adalah salah satu pelabuhan penting Kerajaan Pajajaran. Dia menjadi jalur utama perniagaan ke pelabuhan Sunda Kelapa dan persimpangan jalan dari Ibu Kota Pakuan Padjajaran ke Kawali hingga Galuh.
Sebagaimana dikutip Agus Sunyoto dari buku Moh. Amir Sutaarga berjudul Prabu Siliwangi, jalan darat utama tersebut menghubungkan ibu kota Pakuan Pajajaran dengan Cileungsi atau Cibarusa, Warunggede, Tanjungpura, Karawang, Cikao, Purwakarta, Sagalaherang, Sumedang, Tomo, Sindangkasih, Raja Galuh, Talaga, Kawali, dan ke pusat Kerajaan Galuh Pakuan di sekitar Ciamis dan Bojong Galuh.
Mengingat letak Bandar Karawang yang strategis bagi Kerajaan Pajajaran, kegiatan dakwah Islam yang dilakukan Syekh Hasanuddin di Karawang pun meresahkan Prabu Anggalarang, Penguasa Pajajaran. Syekh Hasanuddin lalu diminta menghentikan kegiatan dakwahnya dan diperintah untuk meninggalkan Karawang.
Syekh Hasanuddin mematuhi perintah Prabu Anggalarang dan pergi ke Malaka. Sebelum pergi, dia berpamitan kepada Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati di Cirebon. Ketika berpamitan itu Syekh Hasanuddin malah dipercaya untuk mendidik Nyi Subang Larang, putri Ki Gedeng Tapa, agar diajari Agama Islam di Malaka.
Tak lama di Malaka, Syekh Hasanuddin dikisahkan kembali ke Karawang dan mendirikan langgar atau mushala tidak jauh dari pelabuhan. Dakwah Syekh Hasanuddin kembali disambut dengan hangat oleh penduduk setempat—sebagaimana dakwah yang dia jalankan sebelum diusir oleh Penguasa Pajajaran. Dalam waktu singkat, langgarnya sudah berkembang menjadi pesantren, tempat penduduk belajar Agama Islam.
Berita bahwa Syekh Hasanuddin kembali berdakwah di Karawang membuat marah Prabu Anggalarang yang pernah melarang dan mengusirnya. Pertimbangan pelarangan dakwah ini sebenarnya lebih bersifat strategis ketimbang agama. Prabu Anggalarang kemudian mengirim putra mahkotanya, Raden Pamanah Rasa, untuk menutup pesantren Syekh Hasanuddin.
Namun, saat sampai di Pesantren Karawang, Raden Pamanah Rasa malah terpesona oleh keindahan suara Nyi Subang Larang yang sedang membaca Al-Qur’an. Akhirnya Raden Pamanah Rasa malah mempersunting Nyi Subang Larang, dan dia tidak menutup Pesantren Karawang.
Setelah pernikahan antara Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Larang, historiografi Cirebon—seperti Carita Purwaka Caruban dan Babad Cerbon, serta naskah-naskah lokal lainnya– lagi menceritakan lebih jauh tentang perkembangan dakwah Syekh Hasanuddin Quro. Umumnya kisah tersebut langsung berlanjut pada kisah Raden Pamanah Rasa dengan Nyi Subang Larang, yang kemudian melahirkan raja-raja Muslim di Tanah Parahyangan.
Pernikahan Raden Pamanah Rasa dan Nyi Subang Larang dikaruniai tiga orang putra-putri, yaitu: Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana atau Cakraningrat (lahir pada tahun 1423 M); dan Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im (llahir tahun 1426 Masehi); Raja Sangara atau Raden Kian Santang (lahir tahun 1428 Masehi). Ketiganya adalah merupakan tokoh-tokoh yang dengan gigih menyebarkan Islam di Jawa Barat. Dari Nyi Mas Rara Santang atau Syarifah Muda’im kelak lahir salah satu Wali Songo di yang menyebarkan Islam di Jawa Barat bernama Syarif Hidayatullah, atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati.
Historiografi Cirebon, seperti Carita Purwaka Caruban Nagari dan Babad Cerbon tidak cukup banyak menyinggung kegiatan dakwah Syekh Hasanuddin. Kedua sumber historiografi itu lebih banyak mengisahkan kisah murid Syekh Hasanuddin, Nyi Subang Larang dan keturunannya seperti Pangeran Walangsungsang, Nyi Lara Santang, dan Kian Santang yang dikenal sebagai penyebar Islam paling gigih di Jawa Barat, yang dilanjutkan oleh putera Nyi Lara Santang bernama Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati.





