Ahmad Chodjim, dalam Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat, menyebut Sunan Kalijaga dikenal sebagai penggagas pakaian takwa, seni Maulid Nabi yang lebih dikenal dengan Grebeg Maulud, dan upacara sekaten atau syahadātain, yaitu upacara pengucapan dua kalimat syahadat yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang-orang Jawa masuk Islam.
Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa. Doa-doa kreasi Sunan Kalijaga—berupa kidung atau mantra—yang paling terkenal adalah Kidung Rumeksa Wengi. Menurut Ahmad Chodjim, kidung Sunan Kalijaga dikenal sebagai Mantra Wedha atau doa penyembuhan yang berguna untuk penyembuhan dan perlindungan diri.
Kidung ini harus diucapkan dengan keyakinan yang tinggi, sehingga nantinya diyakini akan memiliki kekuatan gaib. Berkat penyusunan doa-doa inilah Sunan Kalijaga diterima dengan baik oleh para masyarakat Jawa.
Kala kidung ini lahir, kondisi masyarakat Jawa ketika itu kurang baik. Banyak penyakit dan hama merajalela, sehingga masyarakat membutuhkan pertolongan. Doa hasil ijtihad Sunan Kalijaga ini dirasa ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Maka dari itulah Sunan Kalijaga semakin akrab dengan masyarakat—sehingga mantra atau doa kreasinya itu diamalkan dengan baik oleh masyarakat.

Warisan sentuhan seni Sunan Kalijaga inilah yang mewarnai banyak aktivitas ritual umat Muslim di Jawa hingga saat ini. [—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





