Sunan Kalijaga (2): Wali Kreatif yang Mewariskan Tradisi Muslim di Tanah Jawa

Ahmad Chodjim, dalam Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat, menyebut Sunan Kalijaga dikenal sebagai penggagas pakaian takwa, seni Maulid Nabi yang lebih dikenal dengan Grebeg Maulud, dan upacara sekaten atau syahadātain, yaitu upacara pengucapan dua kalimat syahadat  yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang-orang Jawa masuk Islam.

Sunan Kalijaga juga menyusun beberapa doa dalam bahasa Jawa. Doa-doa kreasi Sunan Kalijaga—berupa kidung atau mantra—yang paling terkenal adalah Kidung Rumeksa Wengi. Menurut Ahmad Chodjim, kidung Sunan Kalijaga dikenal sebagai Mantra Wedha atau doa penyembuhan yang berguna untuk penyembuhan dan perlindungan diri.

Kidung ini harus diucapkan dengan keyakinan yang tinggi, sehingga nantinya diyakini akan memiliki kekuatan gaib. Berkat penyusunan doa-doa inilah Sunan Kalijaga diterima dengan baik oleh para masyarakat Jawa.

Bacaan Lainnya

Kala kidung ini lahir, kondisi masyarakat Jawa ketika itu kurang baik. Banyak penyakit dan hama merajalela, sehingga masyarakat membutuhkan pertolongan. Doa hasil ijtihad Sunan Kalijaga ini dirasa ampuh untuk mengatasi situasi tersebut. Maka dari itulah Sunan Kalijaga semakin akrab dengan masyarakat—sehingga mantra atau doa kreasinya itu diamalkan dengan baik oleh masyarakat.

Tradisi Sekaten, yang berasal dari istilah “Syahadatain”, kreasi Sunan Kalijaga yang masih dilestarikan masyarakat Muslim di Jawa Tengan sampai saat ini. (Dok.)

Warisan sentuhan seni Sunan Kalijaga inilah yang mewarnai banyak aktivitas ritual umat Muslim di Jawa hingga saat ini. [—bersambung]

(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)

 

 

 

 

Pos terkait