Sunan Kalijaga (2): Wali Kreatif yang Mewariskan Tradisi Muslim di Tanah Jawa

Sunan Kalijaga juga juga memanfaatkan seni ukir dalam berdakwah. Dia memilih bentuk dedaunan, bukan bentuk manusia dan hewan. Sebab, sejak para Wali mengembangkan dakwah Islam, seni ukir berbentuk manusia dan hewan sudah tidak dipergunakan lagi. Seni ukir dedaunan kreasi Sunan Kalijaga ini dapat dijumpai pada guyau atau alat untuk menggantungkan gamelan, dan pada rumah-rumah adat di sekitar Demak dan Kudus.

Lanskap pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin, serta masjid, diyakini pula dikonsep oleh Sunan Kalijaga. Dia juga merupakan merupakan salah seorang perancang Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang tatal atau pecahan kayu yang menjadi salah satu tiang utama Masjid Demak merupakan kreasinya.

Sejarawan, De Graff, dalam Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa,(1989), mencatat bahwa pada masa Sultan Trenggana berkuasa di Demak, muncul perbedaan dalam menentukan awal bulan Ramadan antara Sunan Kalijaga—yang waktu itu “bukan siapa-siapa”—dengan Sunan Kudus, yang waktu itu menduduki posisi imam besar masjid Demak. Meski “bukan siapa-siapa”, ternyata pendapat Kalijaga lebih dipercaya oleh Sultan Trenggana.

Bacaan Lainnya

Sunan Kalijaga juga mewariskan hitungan pasaran Jawa yang penting untuk digunakan orang Jawa saat itu, bernama hitungan neptu 40-an. Neptu 40-an adalah waktu 3 hari yang secara kualitas setara dengan waktu 40 hari. Disebut sebagai neptu 40 sebab, ketika angka hari dan pasarannya selama 3 hari itu diakumulasikan, jumlahnya ketemu 40.

Konon, neptu 40 hari ini diciptakan Kalijaga untuk menyiasati tuntutan syariat Islam yang jelas-jelas mengarah pada moderatisasi diri. Tradisi megengan dan selikuran yang sampai saat ini masih dipraktikkan di pedesaan dan keraton-keraton Jawa menjelang dan selama Ramadan juga merupakan hasil ijtihad Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga juga menanamkan nilai-nilai Islam melalui karya sastra. Ia fasih berbahasa kuno, menguasai bahasa Sanskerta, Kawi, bahkan Palawa. Keahlian berbahasa kuno itu berdampak pada kemampuannya memahami kitab-kitab agama yang eksis sebelum Islam, yang berisi ajaran ritual maupun etika dan moral, lalu menyadurnya untuk kepentingan dakwah Islam. Hal tersebut seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dengan menulis kitab Jamus Kalimasada, Serat Dewa Ruci, dan Jaka Sumantri.

Sunan Kalijaga juga meninggalkan legasi karya, seperti Siklus Cerita Panji yang telah menyebar sampai Malaysia, Thailand, Kamboja, dan Vietnam. Selain itu, dia juga menyadur kitab Kakawin-Hindu, suluk Selakrama, menjadi kitab Islam Pesisir, yaitu Serat Dewa Ruci, yang mata rantainya sampai ke Kiai Hasyim Asy’ari.

Pos terkait