Lakon lain yang juga sering dibawakan Sunan Kalijaga adalah Jimat Kalimasada. Lakon ini diambil dari cerita tentang senjata milik Prabu Darmokusumo alias Yudistira atau Puntadewa. Dalam lakon tersebut, Puntadewa—yang dalam ajaran Hindu digambarkan sebagai sosok suci yang bijaksana dan berbudi luhur—diceritakan tidak dapat masuk surga kecuali harus menggunakan satu pusaka khusus yang disebut dengan Jamus Kalimasada atau Jimat Kalimasada—yang tak lain merupakan analogi dari kalimat syahadat.
Konon, naskah Dewa Ruci merupakan salinan dari Suluk Linglung. Jika ajaran Suluk Linglung hanya diperuntukkan bagi murid-murid dalam tarekat Sunan Kalijaga, Dewa Ruci merupakan saduran yang memiliki ide dasar yang sama namun diperuntukkan bagi masyarakat secara luas.
Suluk Linglung merupakan ajaran makrifat dan perjalanan spiritual Sunan Kalijaga yang paling tinggi dalam menemukan makna hakikat kehidupan. Ajaran makrifat ini berdasarkan kitab Duryat, yang kemudian digubah oleh Imam Anom menjadi Suluk Linglung. Dalam Suluk Linglung dijelaskan secara detail mengenai perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari iman yang hakiki, sejak dia masih menjadi brandal, bertemu dengan Sunan Bonang, hingga berguru dengan guru Sejati, yaitu Nabi Khidir.
Sunan Kalijaga, dalam dunia pewayangan, juga memunculkan tokoh-tokoh Punakawan, yaitu Semar, Gareng, Petruk, Bagong—dalam beberapa kisah ditambahkan Togog, dan Bilung—yang mengabdi kepada para ksatria. Kesaktian punakawan ini digambarkan melebihi dewa. Sedangkan kisah Ramayana dan Mahabharata yang asli tidak mengenal tokoh Semar dan keempat orang putranya itu.
Nama-nama Semar, Nala Gareng, Petruk, dan Bagong merepresentasikan karakteristik kepribadian Muslim yang ideal. Semar, sebagaimana dijelaskan Sudarto, berasal dari kata “ismar” yang berarti “seorang yang mempunyai kekuatan fisik dan psikis”. Ia adalah representasi seorang mentor yang baik bagi kehidupan, baik bagi raja maupun masyarakat secara umum.
Nala Gareng berasa dari kata “nala qarin” yang berarti “seorang yang mempunyai banyak teman”. Ia merupakan representasi dari orang yang supel, tidak egois, dan berkepribadian menyenangkan, sehingga ia mempunyai banyak teman.
Petruk merupakan kependekan dari frasa “fatruk ma siwa Allah”, yang berarti “seorang yang berorientasi dalam segala tindakannya kepada Tuhan”. Ia merepresentasikan orang yang mempunyai konsen sosial yang tinggi dengan dasar kecintaan kepada Tuhan. Sementara Bagong berasal dari kata “bagha”, yang berarti menolak segala hal yang bersifat buruk atau jahat, baik yang berada di dalam diri sendiri maupun masyarakat.
Sunan Kalijaga mengubah tradisi pewayangan menjadi bernapaskan Islam. Dewi Drupadi, yang dalam cerita aslinya adalah perempuan poliandri yang dinikahi oleh lima bersaudara Pandawa, di tangan Sunan Kalijaga hanya dikawin oleh Puntadewa, sulung para Pandawa. Prinsip poliandri yang tidak relevan dengan ajaran Islam diubah sedemikian rupa tanpa mengoyak tradisi yang sudah menginstitusi dalam kehidupan masyarakat kala itu.
Sunan Kalijaga bukan sekadar mengeksplorasi konsep pewayangannya dengan nilai-nilai intrinsik Islam, tetapi juga melakukan reformasi bentuk wayang, dari sebelumnya berbentuk gambar manusia menjadi gambar dekoratif dengan proporsi tubuh tidak mirip manusia.
Dia juga memperkenalkan konsep pewayangan yang disebut wayang “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”, yang berarti “berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah dengan selamat”. Konsep pewayangan ini pun, mau tak mau, harus mengalami konversi ke dalam istilah Jawa, sehingga menjadi “ojo lali sangkan paraning dumadi” atau “jangan lupa asal dan tujuan”.





